Seputar Publik / Opini

Kemenangan untuk Memulihkan Keberanian

Oleh: Tundra Meliala
Ir. Tundra Meliala MM., GRCE ,CPCC. Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia. Ir. Tundra Meliala MM., GRCE ,CPCC. Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia.

Menahan lapar dan haus menjadi simbol yang lebih luas: menahan amarah terhadap ketidakadilan, menahan kekecewaan terhadap negara, bahkan menahan keputusasaan terhadap masa depan. Puasa menjadi latihan diam dan, dalam batas tertentu, legitimasi untuk diam.

Idul Fitri, yang secara teologis dimaknai sebagai kemenangan, pun mengalami pergeseran dalam penerapan. Kemenangan itu tidak lagi tentang menaklukkan hawa nafsu semata, melainkan tentang keberhasilan bertahan melewati tekanan hidup yang tak kunjung reda.

Kita merayakan bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena kita masih sanggup berdiri.

Lebaran, dengan simbol kemenangan dan kembali ke fitrah, memang tidak boleh dimaknai sebagai garis akhir dari perjuangan batin, melainkan titik awal untuk memulihkan keberanian.

Kemenangan sejati bukan hanya soal berhasil bertahan, tetapi juga tentang kemampuan untuk tetap peduli, dan, ketika perlu, berani bersuara.

Sebab, sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena krisis yang bertubi-tubi. Ia runtuh ketika warganya berhenti percaya bahwa keadaan bisa diubah.

Dan mungkin, di tengah segala tekanan ini, tantangan terbesar kita bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menjaga agar hati tidak benar-benar menjadi kebal. 

Penulis: Tundra Meliala

Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat

Tulis Komentar

Komentar