“Jika setiap OPD mampu menghasilkan setidaknya 10 inovasi dalam setahun, hal ini akan menjadi langkah besar bagi Bojonegoro,” tambahnya.
Sebagai pembanding, Yusharto juga menyebut Kabupaten Wonogiri yang telah mencatatkan 1.300 inovasi meskipun memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang lebih kecil dibandingkan Bojonegoro.
Ia mendorong Pemkab Bojonegoro untuk memanfaatkan database inovasi nasional yang saat ini mencatat lebih dari 31.000 inovasi di berbagai bidang. Dengan mempelajari praktik terbaik dari daerah lain, Bojonegoro diharapkan dapat mempercepat transformasi pemerintahannya menjadi lebih efisien dan efektif.
“Dari sisi keuangan, sepertinya Bojonegoro diberkahi dengan sumber daya yang sangat besar, dan kalau dilihat, banyak sekali provinsi hingga kabupaten yang APBD-nya juga tidak sampai 8 triliun seperti ini (Bojonegoro). Tinggal bagaimana digunakan anggaran ini untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan,” terangnya.
Yusharto berharap pertemuan ini dapat menjadi awal dari langkah strategis yang akan membawa Kabupaten Bojonegoro menjadi daerah yang lebih maju, dinamis, dan inovatif. Didukung komitmen yang kuat dari seluruh pihak, Bojonegoro diharapkan mampu mencapai target pembangunan strategis yang telah ditetapkan.
“Bojonegoro memiliki peluang besar untuk memimpin dalam pengembangan inovasi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
(*/RDN)
Komentar