KH. Ma’ruf Amin juga memberikan apresiasi kepada para santri yang telah mendapatkan "Inayah Rabbaniyah." Ia menceritakan tentang seorang pejabat yang tidak tahu jumlah juz Al-Qur'an, menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap kitab suci. Ia juga menggarisbawahi peran penting orang tua santri dalam mempercayakan pendidikan agama di pesantren.
"Tugas utama ulama adalah mengajak manusia kepada jalan Allah SWT dan mempersiapkan generasi penerus yang tafaqquh fiddin. Kejahilan akan selalu ada, dan setelah masa Rasulullah SAW, ulama-lah yang menjadi penuntun umat," ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti tantangan zaman yang dipenuhi dengan informasi yang salah, yang ia sebut sebagai "setan gepeng." Beliau menekankan pentingnya kemampuan untuk membedakan antara yang haq dan yang batil, serta bagaimana peran ulama dalam memberikan pengetahuan dan bimbingan kepada umat.
KH. Ma’ruf Amin juga mendorong santri untuk terus menggali ilmu dan menghadapi tantangan zaman dengan bekal kemampuan memilah yang benar dan yang salah (dzawil albab), serta sumber ilmu dari guru yang mengerti aspek lahiriah dan batiniah (syaikhun wasif) serta teman yang selalu mengajak kepada kebenaran (shodidun shaduq).
Di akhir pidatonya, beliau mengingatkan para santri untuk terus menuntut ilmu dan berupaya mengembangkan diri menjadi individu yang cerdas dan sholeh demi masa depan yang lebih baik.
Komentar