Ia mencontohkan tayangan olahraga internasional, konser musik, hingga ajang pencarian bakat yang masih menjadi magnet utama bagi masyarakat. Menurutnya, program seperti Dangdut Academy di Indosiar mampu meraih pangsa pemirsa yang sangat tinggi.
Selain itu, pertandingan Tim Nasional Indonesia yang disiarkan melalui jaringan EMTEK juga mencatatkan tingkat penonton yang sangat besar.
> "Pertandingan Timnas Indonesia mampu menghasilkan total share hingga sekitar 50 persen di dua stasiun televisi. Ini menunjukkan televisi masih memiliki daya tarik yang sangat kuat," jelasnya.
Sementara itu, peserta kunjungan dari Universitas Muhammadiyah Indonesia, Kamila Roihana, mengaku memperoleh banyak wawasan mengenai tantangan sekaligus strategi industri televisi dalam menghadapi era digital.
Menurutnya, pihak SCTV terus berupaya menghadirkan inovasi agar televisi tetap menjadi pilihan masyarakat, termasuk bagi generasi muda.
> "Mereka terus berusaha agar anak-anak dan generasi muda tetap tertarik menonton televisi," ujarnya.
Kamila juga mengaku terkesan dengan fasilitas produksi modern yang dimiliki SCTV. Baginya, kunjungan ini memberikan gambaran nyata mengenai standar profesional yang diterapkan industri penyiaran nasional.
Ia menambahkan, mahasiswa komunikasi perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan memperluas jejaring profesional dan meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja.
> "Mahasiswa komunikasi harus memperbanyak relasi dan membangun networking sejak di bangku kuliah agar siap memasuki industri media," katanya.
Melalui kunjungan industri ini, para mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan praktik nyata di dunia industri media. Selain memperluas wawasan mengenai transformasi digital, kegiatan ini juga menjadi bekal dalam mempersiapkan talenta komunikasi yang adaptif, inovatif, dan siap menghadapi perkembangan industri media yang semakin dinamis.(Red)*
(Penulis: Siti Mariyam)*
Komentar