Seputarpublik.com || JAKARTA — Ketua Umum Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT), Marullah Matali, mengajak kalangan ulama dan umara membangun hubungan yang kuat, saling memahami peran, serta bersinergi dalam memberikan pelayanan kepada umat dan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Marullah saat menjadi narasumber utama dalam Halaqah Ormas dan Lembaga Islam yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Jakarta Selatan bersama Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan di Gedung Keumatan Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2026).
Halaqah tersebut dihadiri Wali Kota Jakarta Selatan, jajaran pengurus MUI, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan dan lembaga Islam se-Jakarta Selatan.
Dalam forum tersebut, Marullah yang juga merupakan anggota Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi (LAKB), menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan keumatan.
Moderator halaqah, Azis Khafia, memperkenalkan Marullah sebagai sosok yang memiliki pengalaman panjang di bidang birokrasi sekaligus latar belakang pendidikan keagamaan. Pengalaman tersebut, menurut moderator, memberikan perspektif dari dua sisi dalam melihat hubungan ulama dan umara.
Ulama dan Umara Harus Saling Menguatkan
Menurut Marullah, ulama memiliki kedudukan penting karena ilmu dan kedekatan kepada Allah semestinya melahirkan rasa takut kepada-Nya serta tanggung jawab moral dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, umara, menurut dia, merupakan mitra strategis ulama dalam menjalankan pelayanan kepada masyarakat.
«“Ulama dan umara itu kembar. Maka ulama dan umara harus saling menguatkan dan mendukung,” kata Marullah dalam halaqah tersebut.»
Marullah menegaskan, hubungan antara ulama dan umara tidak semestinya ditempatkan dalam posisi yang saling berhadapan.
Sebaliknya, keduanya perlu memahami batas dan porsi masing-masing sehingga dapat berjalan berdampingan dalam menjalankan amanah pelayanan kepada umat.
«“Duduk sejajar untuk melayani umat. Masing-masing harus saling mengerti porsinya,” ujarnya.»
Ulama dan Umara Memiliki Peran Berbeda
Marullah menjelaskan, ulama dan umara sama-sama mempunyai tanggung jawab dalam menjaga kehidupan masyarakat agar tetap berada dalam koridor kebaikan.
Namun, keduanya memiliki instrumen dan kewenangan yang berbeda.
Menurut Marullah, ulama memiliki kekuatan melalui ilmu, lisan, nasihat, dan fatwa sebagai informal leader. Sementara umara memiliki kewenangan pemerintahan yang dapat digunakan dalam menjalankan kebijakan dan pelayanan publik.
Keduanya, lanjut Marullah, dapat berkontribusi dalam menjalankan prinsip amar ma'ruf nahi munkar, yakni mengajak masyarakat kepada kebaikan dan mencegah berbagai bentuk keburukan.
«“Porsi ulama dengan lisannya, dengan fatwanya, sebagai informal leader. Sedangkan umara mempunyai kekuasaan atau yad,” tuturnya.»
Menurut dia, perbedaan instrumen tersebut bukan alasan untuk mempertentangkan ulama dan umara. Justru, perbedaan peran perlu dipahami agar keduanya dapat saling melengkapi.
Marullah Ingatkan Ulama Menjaga Marwah
Dalam kesempatan tersebut, Marullah juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah dan kehormatan ulama.
Menurutnya, kedudukan ulama yang dihormati masyarakat perlu diiringi dengan sikap, konsistensi, serta keteladanan dalam menjalankan peran di tengah kehidupan umat.
Marullah juga mengutip ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Malik, al-'ilmu yu'ta wa la ya'ti, yang secara umum dimaknai bahwa ilmu didatangi, bukan mendatangi.
Menurut Marullah, ungkapan tersebut dapat menjadi pengingat agar ulama tetap menjaga sikap dan kehormatan keilmuan dalam berinteraksi dengan berbagai pihak.
«“Ulama harus konsisten, istiqamah, konsekuen, serta memiliki marwah atau kehormatan,” katanya.»
Ia menilai komunikasi yang baik antara ulama dan umara menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kehidupan masyarakat tetap harmonis.
Sinergi untuk Kepentingan Umat
Marullah berharap hubungan yang harmonis antara ulama dan umara dapat terus dibangun, bukan hanya dalam forum keagamaan, tetapi juga ketika menghadapi berbagai persoalan sosial dan kemasyarakatan.
Menurutnya, pemahaman terhadap peran masing-masing dapat membantu menghindari kesalahpahaman sekaligus memperkuat kerja sama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dengan komunikasi yang baik, sinergi, serta penghormatan terhadap porsi dan kewenangan masing-masing, ulama dan umara diharapkan dapat menjadi kekuatan bersama dalam menjalankan amanah serta memberikan pelayanan terbaik kepada umat dan masyarakat Jakarta.
Pesan tersebut menjadi penekanan Marullah bahwa kekuatan hubungan ulama dan umara bukan terletak pada penyamaan peran, melainkan pada kemampuan keduanya untuk saling memahami, menguatkan, dan bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing.(*/hel)