"Pulang ke Indonesia, mereka membuat kultur yang baik, menularkan kepada ASN yang lainnya. Harapan saya ASN juga akan terjadi revolusi mental dengan kultur yang baik," imbuhnya.
Sementara itu, dalam kesempatan terpisah, lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXII Tahun 2025, Suwandi, menjelaskan bahwa perjuangannya mengikuti seleksi masuk IPDN bukanlah hal yang mudah. Pamong Praja Muda (PPM) asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, itu mengenang banyaknya tantangan yang dihadapi saat proses seleksi. Namun berkat usaha keras, doa, dan dukungan orang tua, ia berhasil mengenyam pendidikan di Lembah Manglayang.
"Waktu itu juga waktu Covid-19, tentunya banyak rintangan, banyak tantangan yang dihadapi. Namun tidak menyurutkan semangat saya untuk menjadi seorang Praja IPDN," ungkap Suwandi, yang merupakan anak dari seorang penjual bakso.
Ia bertekad untuk menjalankan tugas pengabdian sebaik mungkin. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar terus semangat dan tidak menyerah. Halangan, menurutnya, bukan berarti batasan untuk meraih kesuksesan.
"Untuk itu kami mohon doanya semoga kami dapat dilancarkan dalam tugas-tugas, dalam pelaksanaan tugas nantinya," tandasnya.
(*/Rdn)
Komentar