Di era Orde Baru RRI menyelenggarakan forum radio pertanian bertajuk Siaran Pedesaan dengan Kelompencapir-nya selama 3 dekade sejak 1969. Melakukan diseminasi konsep keluarga berencana melalui serial sandiwara radio Butir-Butir Pasir di Laut (1972-1984) yang sangat populer. Tidak kurang dari 5.700 episode. RRI memprakarsai lomba tilawah Al Quran pertama di Indonesia tahun 1967, yang kemudian diberi nama Pekan Tilawatil Quran (PTQ).
RRI menjadi lembaga terakhir yang keluar dari Timor Timur setelah referendum. Kepala Stasiun Parlin Tobing menangis ketika terpaksa mengakhiri siaran RRI Dili, pada tanggal 23 September 1999 jam 10.00.
Di masa pandemi COVID-19, selain memberikan informasi yang akurat dan terpercaya kepada masyarakat, RRI juga menyelenggarakan siaran pendidikan bertajuk Belajar di RRI, dan Guru Keliling.
RRI membuat Gerakan Cerdas Memilih memadukan kegiatan on-air dan off-air untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat dan partisipasi pemilih dalam Pemilu 2024. Juga menyelenggarakan program dialog interaktif Parlemen Menjawab.
Jejaring di 104 stasiun dan 205 stasiun estafet di seluruh pelosok negeri, menjangkau 91,19% luas wilayah, 83,68 wilayah 3T, 82% populasi. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi Pemilu 2024 mencapai 92%. 46,4% pendengar radio di Indonesia merupakan pendengar RRI. Semuanya menjadi modalitas RRI yang lagi-lagi tidak dimiliki media lain. Yang memudahkan RRI tetap menjalankan marwahnya sebagai mikrofon republik.
Penulis : AM Adhy Trisnanto, Ketua Dewan Pengawas LPP RRI.
Komentar