Bagi masyarakat umum, daftarnya akan amat sangat panjang. Bagi para supir truk, cukupnya stok solar di setiap SPBU sehingga mereka mudah mengisi tangki, akan membuat perjalanan mereka tidak perlu tertunda 12-24 jam karena antre. Bagi rumah tangga dan para petani yang kekeringan karena El Nino, turunnya hujan entah karena modifikasi cuaca atau kemurahan alam, akan mengurangi penderitaan. Bagi ibu rumah tangga, harga produk makanan pabrik dan hasil pertanian yang terus naik, apabila harganya turun atau stabil, akan meringankan dompet belanja.
Bagi korban PHK akibat perusahaan bangkrut dan sarjana pencari kerja, lowongan yang semakin banyak, tentu akan memperbesar peluang mereka untuk bekerja dan tidak lagi menjadi pengangguran. Bagi pedagang keliling, warung-warung di perumahan, kafe di pusat kuliner, banyaknya yang bekerja akan menciptakan daya beli dan geliat ekonomi meningkat membuat masyarakat mau belanja sehingga usaha mereka pun bisa berputar.
Pengelola media dan pekerja media sendiri, kabar baik itu tampaknya masih amat jauh. Semakin sering terdengar terjadinya rasionalilisasi, pensiun duni, pengurangan staf, karena biaya operasional cenderung meningkat sementara pendapatan cenderung menurun. Penyebabnya adalah pengeluaran Kementerian, lembaga, Perusahaan swasta, BUMN, untuk pencitraan dan promosi masih ada. Tetapi 80 persen sudah diambil platform global dan media sosial, yang tidak mengeluarkan duit untuk memproduksi berita sebagaimana media massa.
Dengan kondisi ini tentu saja pekerja media menjadi korban pertama. Pilihannya berhenti, atau gaji dikurangi, sementara kebanyakan wartawan tidak memiliki kompetensi memadai selain mencari dan memproduksi berita. Secara mental, tidak mudah mendadak menjadi konten creator atau poadcaster yang handal, apalagi persaingan kian sengit.
Maka sebagai wartawan atau warga negara Indonesia yang sedang dilanda berbagai keruwetan menonton sepakbola ASEAN Cup atau menyaksikan siaran langsung pertandingan multi evet atlet kita di Asian Games Aichi Nagoya, barangkali menjadi satu-satunya penghibur, sekaligus sambil berharap ujungnya berupa kabar baik. Ya harus tetap optimistis agar tidak merusak mental dan membuat jantung berdegup lebih kencang dan malah kena stroke. Wallahu a’lam bhisawab. ***
Ciputat, 25 September 2026.
*Penulis: Hendry Ch Bangun Tokoh Pers Nasional
Komentar