Seputar Publik / Berita

MUI: Ramadan Adalah Bulan Jihad Kendalikan Hawa Nafsu

Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ali M. Abdillah L. Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ali M. Abdillah L.

“Inilah kekejian binatang liar. Ketika didominasi oleh nafsu amarah dengan karakter sabu’iyah yang dominan, pasti muncul sifat karakter rakus, kemudian raja tega, menghalalkan segala cara, dan juga akan semena-mena,” katanya.

Kiai Ali menilai puasa harus memiliki dampak yang positif untuk menurunkan tensi penguasaan nafsu pada diri manusia.

Menurut dia, cara yang paling efektif untuk menundukkan nafsu amarah yang sabu’iyah maupun bahimiah, yaitu dengan cara lapar untuk bisa memutus mata rantai terjadinya dominasi nafsu amarah.

Ia mencontohkan jika manusia telah dikuasai oleh nafsu sabu’iyah, ketika orang didoktrin agama yang mengambil satu atau dua ayat terkait jihad, dijamin masuk surga dan disediakan 72 bidadari.

Oleh karena itu, kata dia, jika ada orang yang dangkal pemahaman beragamanya, lalu mempercayai doktrin sesat tersebut, telah muncul nafsu sabu’iyah-nya.

“Layaknya binatang buas, rasa kemanusiaannya hilang karena didominasi virus kekerasan yang masuk ke dalam pikirannya, ingin masuk surga secara instan, tetapi mengabaikan sisi kemanusiaan,” katanya.

Kiai Ali berpesan bahwa jihad pada bulan Ramadan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjalankan ibadah puasa secara baik dan bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas iman.

Menurut dia, melalui cara tersebut puasa yang dikerjakan bisa meraih derajat ketakwaan yang hakiki karena target orang puasa itu harus ada peningkatan ketaatannya

Tulis Komentar

Komentar