Seputarpublik, Jakarta – Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menggelar acara peringatan satu abad Nahdlatul Ulama.
Kegiatan ini berpusat di Mesjid Jami At Thohiri, Jalan Haji Thohir Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Senin malam (13/2/ 2023).
Dengan mengusung tema “Merawat Jagat Membangun Peradaban” acara ini dihadiri oleh beberapa pengurus MWC NU Kebon Jeruk, diantaranya ada Ustadz Muhtarom H Ubaidilah Isa atau biasa disapa Gus Tarom, yang juga sebagai Ketua Tanfidziah, Ustadz Ahmad Sauri , Ustadz Ahmad Kamil, KH Irfan Zidny Wahab Al Hasib, S.Ag, MA, Ustadz H Ahmad Bayadho SQ, selaku Qori.
Kemudian tamu undangan yang hadir ada Habib Mujtaba Sahab, Habib Fahmi Asegaf, Cak Islah Bahrawi, serta para tokoh masyarakat dan alim ulama setempat.
Turut hadir mantan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj MA selaku penceramah.
Gus Tarom dalam sambutannya mengatakan, bahwa Nahdlatul Ulama merupakan organisasi islam tertua di Indonesia, organisasi ini dilahirkan oleh para kiai dan para wali-wali Allah.
Satu abad ini menjadikan NU semakin kokoh, meskipun NU sudah beberapa kali diterjang badai, sebuah perbedaan pendapat menjadi hal yang biasa dan itu tidak menyurutkan kami untuk terus menebarkan kebaikan.
“Mudah-mudahan memasuki abad kedua nanti NU semakin kokoh dan terus Istiqomah dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,” ujar Gus Tarom.
Sementara itu, Ustadz Ahmad Sauri selaku ketua pelaksana kegiatan ini menjelaskan, bahwa kegiatan ini adalah bentuk tasyakur dalam rangka satu abad Nahdlatul Ulama, disamping itu kita juga memberikan santunan yatama kepada para anak yatim sebanyak 50 orang, yang di sponsori oleh Perumda Paljaya melalui wakilnya Bapak Syahril (Korporat Sekretaris) yang turut hadir.
“Kita berharap kegiatan ini terutama di wilayah Kebon Jeruk khususnya, dapat terus berkembang Nahdlatul Ulamanya, Fikrah, Harakah kemudian amalia-amalia Nahdlatul ulama ini semakin kuat,” ujar Ahmad Sauri.

Puncak acara ini diisi dengan ceramah agama atau tausiah yang disampaikan oleh Prof.Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA.
Dalam tausiahnya Kiai Said kembali mengenang beberapa tokoh pendiri NU mulai dari KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bishri Syansuri, KH Asnawi, KH Nawawi, hingga Syekh Ahmad Ghana’im Al Misri (Mesir).
Selain itu, Kiai Said berpesan kepada anak muda NU agar tetap berpegang teguh pada prinsip moderat dan toleran. Dengan demikian anak-anak muda NU tidak akan mudah terseret dalam cara berfikir yang kaku, agar terwujud generasi NU yang berakhlak tulus, dan berwawasan seperti para pendahulunya.

Di penghujung ceramahnya Kiai Said berpesan kepada seluruh jamaah yang hadir, supaya lebih berhati-hati dalam menjaga dan mendidik anak ditengah derasnya arus informasi tekhnologi melalui media sosial dengan tampilan gambar berupa iklan yang kurang pantas untuk anak-anak.
“Menurut saya satu-satunya jalan untuk mencegah bahaya ini adalah dengan memasukan anak ke pondok pesantren.
Sebagaimana contoh pada Nabi Musa yang lahir ditengah-tengah lingkungan yang penuh kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Tetapi Nabi Musa tidak tertular akan semua itu.
Karena Nabi Musa dipelihara oleh seorang ibu yang beriman dan berhati ikhlas.
Begitupula dengan pondok pesantren yang kita ibaratkan dengan seorang ibu tadi, maka insyaallah anak-anak kita akan terhindar dari bahaya medsos yang begitu deras menyerang para anak-anak di jaman sekarang ini,” jelas Kyai Said Aqil Siradj menutup tausiahnya.