Menyikapi dinamika 17 tahun refleksi MOU Helsinki/perjanjian Damai RI-GAM Aceh telah merasakan indahnya kedamaian dan kenyamanan hidup dan kebebasan beraktivitas tanpa adanya ketakutan dan kekhawatiran, tentu perdamaian tersebut sebuah anugerah dan Rahmat Allah SWT yang wajib kita syukuri, serta menjaga dan merawat perdamaian merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama.
akan tetapi perdamaian yang telah bertahan selama 17 tahun, belum memberikan sebuah jaminan perdamaian akan terus berlanjut dan abadi, mengingat indeks kemiskinan masih sangat tinggi, pengangguran, kesenjangan ekonomi, kesenjangan pembangunan dan sosial, serta masih belum tuntas,Implementasi MOU Helsinki dan UUPA sebagai bagian konsensus perdamaian
indikator tersebut dapat dikhawatirkan berpotensi akan terjadinya instabilitas politik keamanan dan ketertiban masyarakat(Kamtibmas) dimasa masa yang akan datang.
polemik qanun nomor 3 tahun 2013 tentang bendera bulan bintang (BBB) yang masih mengambang dan ketidakjelasan, telah menguras tenaga dan energi masyarakat terutama bagi aparat keamanan TNI/Polri di setiap jelang pemilu,Milad GAM 4 Des dan pada hari peringatan MOU Helsinki 15 Agustus, maka untuk itu, pada momentum perdamaian Aceh yang ke 17 tahun ini kami meminta:
1.mengajak semua pihak, para pemangku kepentingan untuk memperkuat perdamaian Aceh.
2.mengajak semua pihak untuk bersama menjaga keamanan, ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
3.menyelesaikan seluruh implementasi MOU Helsinki dan UUPA nomor 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh.
4.semua pemangku kepentingan ( Stakeholder) untuk segera mengambil kebijakan yang strategis dan fundamental dalam menekan angka kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pembangunan serta ekonomi untuk kesejahteraan rakyat.
5.melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap penggunaan dana Otsus yang lebih efisien,efektif lebih terarah kepada program dan pembangunan yang pro rakyat
6.menyelesaikan pelanggaran HAM, serta penyelesaian konflik Agraria di Aceh
bila tidak ada keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan tanggung jawab, dikhawatirkan Aceh akan menjadi bom waktu, yang dapat mengancam perdamaian serta akan memantik Gerakan Rakyat di seluruh Aceh dimasa yang akan datang, masyarakat Aceh tidak ingin Aceh kembali ke pusara konflik demikian pungkasnya jamal jei, setelah itu peserta aksi damai sempat memutari iring iringan dengan mobil ke pusat pemerintahan Aceh Timur.
(hs)
Komentar