Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan Tari Massal Ronggeng Menor yang melibatkan sekitar 2.000 penari dari unsur SD, SMP dan sanggar di Kota Bekasi.
Penampilan kolosal tersebut menjadi salah satu titik yang membuat warga berhenti berolahraga dan berkumpul di sepanjang jalur parade untuk menyaksikan pertunjukan.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan antusiasme masyarakat menjadi energi utama dalam pelaksanaan PNBK Jilid III.
“Saya melihat pagi ini warga datang dengan antusias. Ada yang datang untuk olahraga, ada yang sengaja ingin melihat parade, ada yang membawa anak-anak. Ini yang kita inginkan, ruang publik kita hidup dan masyarakat bisa menikmati kotanya,” ujar Tri.
Menurut Tri, PNBK dirancang sebagai ruang perjumpaan. Masyarakat bisa melihat langsung bahwa budaya Indonesia sangat beragam dan sebagian besar masih hidup di tengah masyarakat Kota Bekasi.
“Ketika ribuan orang berkumpul dan menikmati acara , yang kita bangun sebenarnya bukan hanya pertunjukannya. Kita sedang membangun rasa cinta terhadap keanekaragaman dan pelestarian budaya,” katanya.
Ragam pertunjukan yang hadir juga menunjukkan luasnya representasi budaya dalam PNBK Jilid III. Mulai dari Tari Tor Tor dan Loncat Batu Nias, Tari Piring dan Indang Badindang, Ngarak Barong Bekasi, Reog Ponorogo, hingga Cakalele dan berbagai pakaian adat Nusantara.
Komentar