Dengan “Pondok Rangkul " kami hadirkan sebagai ruang untuk bertumbuh bersama dan saling menguatkan. Pemulihan pascabencana harus menyentuh keutuhan manusia, bukan hanya rumah dan infrastruktur,” tegas Jatmiko.
Menurutnya, pendekatan psikososial menjadi bagian penting dari tanggung jawab kemanusiaan perusahaan. Oleh Karena itu, Pondok Rangkul dirancang bukan hanya sebagai program sesaat, tetapi melainkan ekosistem pemulihan yang berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dijalankan bersama - sama Yayasan Pulih, lembaga yang sudah berpengalaman dalam pendampingan psikososial pascabencana. Direktur Yayasan Pulih, psikolog Livia Istania DF Iskandar, menjelaskan bahwa Pondok Rangkul menjadi ruang ramah bagi warga untuk memulihkan diri secara perlahan - lahan.
“Pemulihan mental, emosi, dan jiwa membutuhkan waktu dan kesinambungan. Di ruang yang aman, anak-anak dan orang tua bisa mengekspresikan perasaannya, merasakan kembali belajar dengan rasa aman dan nyaman, serta membangun ketahanan psikologis,” ungkap Livia.
Program yang dijalankan mencakup psychological first aid (PFA), kegiatan pemulihan trauma anak, pendampingan ibu dan keluarga, ruang bermain edukatif, hingga sesi pemulihan berbasis komunitas. Seluruh rangkaian itu direncanakan berlangsung selama enam bulan.
Komentar