Pramono juga mendorong agar kuliner khas Betawi memiliki kemasan dan strategi pemasaran yang lebih menarik sehingga dapat menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Jakarta.
Ia bahkan berencana menjadikan Dodol Nyak Mai sebagai salah satu sajian dalam berbagai acara resmi di Balai Kota.
“Kuliner Betawi sebenarnya banyak yang enak, tetapi belum dipasarkan dengan baik. Kita perlu membuat kemasan yang lebih menarik agar siapa pun yang datang ke Jakarta bisa mencoba dodol ini,” tuturnya.
Dodol Betawi, Simbol Gotong Royong
Dodol Betawi dikenal sebagai “kue gotong royong” karena proses pembuatannya biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam jumlah besar.
Tanpa menggunakan bahan pengawet, dodol tradisional ini dapat bertahan sekitar dua hingga tiga minggu jika disimpan dengan baik.
Sebagai salah satu kuliner legendaris Betawi, Dodol Nyak Mai tidak hanya menjadi simbol kekayaan budaya, tetapi juga berperan dalam mendukung ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Jakarta.
Dalam kesempatan yang sama, Fauzi Bowo mengapresiasi perhatian Pemprov DKI Jakarta terhadap pelestarian budaya Betawi, khususnya di kawasan Setu Babakan.
“Atas nama masyarakat Betawi, khususnya di Setu Babakan, saya mengucapkan terima kasih karena perhatian Gubernur Pramono begitu besar. Saat ini juga sedang dilakukan perbaikan jalan di sekitar situ yang akan menambah kenyamanan pengunjung,” kata Foke.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi upaya mempromosikan budaya kuliner Betawi kepada masyarakat luas.
“Dodol ini merupakan bagian dari budaya kuliner Betawi. Dengan kegiatan ini, Gubernur Pramono ikut mempromosikan kuliner Betawi,” ujarnya. (*/hel)
Komentar