Beranda
Seputar Publik / Berita

Pramono Anung Serukan Persatuan Suku Betawi di Haul MH Thamrin: Budaya Betawi Kunci Kekuatan Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Tegaskan Majelis Kaum Betawi agar bersatu tanpa sekat, sesuai amanat UU Daerah Khusus Jakarta, saat Haul ke-85 MH Thamrin di TPU Karet Bivak.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Fauzi Bowo saat menghadiri Haul ke-85 Pahlawan Nasional Mohammad Husni (MH) Thamrin yang digelar di TPU Karet Bivak, Jakpus, Minggu (11/1/2026). Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Fauzi Bowo saat menghadiri Haul ke-85 Pahlawan Nasional Mohammad Husni (MH) Thamrin yang digelar di TPU Karet Bivak, Jakpus, Minggu (11/1/2026).

Seputarpublik.com, JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyerukan pentingnya persatuan masyarakat Betawi, khususnya yang tergabung dalam Majelis Kaum Betawi (MKB), sebagai kekuatan strategis bagi masa depan Jakarta. Ia menegaskan, tidak boleh lagi ada sekat-sekat internal yang itu justru dapat melemahkan posisi masyarakat Betawi di tanahnya sendiri.

Seruan tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri Haul ke-85 Pahlawan Nasional Mohammad Husni (MH) Thamrin yang digelar di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, pada Minggu (11/1/2026). Dalam kesempatan itu, Pramono juga berziarah ke makam MH Thamrin sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan tokoh besar Betawi tersebut.

Acara haul turut dihadiri mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, H. Fauzi Bowo, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi Betawi.

“Hari ini kita memperingati Haul MH Thamrin. Saya sebagai Gubernur Jakarta, bersama Bang Foke, harapannya cuma satu: Majelis Kaum Betawi ini segera bersatu. Jangan ada lagi ‘ini itu, ini itu’. Apa yang harus saya kerjakan untuk itu, pasti saya kerjakan,” tegas Pramono.

Pramono menilai, salah satu kekuatan utama masyarakat Betawi adalah karakter egaliter yang telah tumbuh sejak lama. Sejak dahulu, Jakarta tidak mengenal sistem kerajaan atau kesultanan, sehingga nilai kesetaraan menjadi ciri khas yang membedakan masyarakat Betawi.

“Inilah kekuatan masyarakat Betawi. Kalau bisa dipersatukan, ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi Jakarta,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pramono mengingatkan bahwa persatuan masyarakat Betawi juga merupakan amanah konstitusional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta, yang menetapkan budaya Betawi sebagai budaya utama Jakarta.

“Saya sungguh berharap, mudah-mudahan di era saya, Majelis Kaum Betawi ini bisa betul-betul bersatu. Saya memang dilahirkan di Kediri, tetapi sebagai Gubernur Jakarta, saya berkeinginan masyarakat Betawi menjadi kuat di tanahnya sendiri,” kata Pramono.

Haul MH Thamrin tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh Betawi, antara lain H. Nachrowi Ramli, HM Nuh, H. Supli Ali, H. Beky Mardani, H. Zainuddin (H. Oding), H. Riano P. Ahmad, Sylviana Murni, serta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, termasuk Sekretaris Daerah DKI Jakarta Uus Kuswanto, Wali Kota Jakarta Pusat H. Arifin, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainah, dan Kepala Dinas Kominfotik DKI Jakarta Budi Awaluddin.

Di sela acara, Persatuan Masyarakat Jakarta Mohammad Husni Thamrin (Permata MHT) juga memperkenalkan buku yang memuat sejarah perjalanan organisasi tersebut selama 50 tahun. Buku tersebut dibagikan kepada para tokoh yang hadir sebagai bagian dari upaya merawat memori kolektif perjuangan MH Thamrin.

Sementara itu, Ketua Dewan Adat MKB H. Fauzi Bowo menegaskan bahwa mengenang MH Thamrin tidak cukup dilakukan melalui seremoni semata. Menurutnya, nilai-nilai perjuangan Thamrin harus terus dihidupkan dan diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“MH Thamrin adalah tokoh pemersatu. Ia mampu menjembatani berbagai corak perjuangan, baik kooperatif maupun nonkooperatif, demi kemerdekaan dan keadilan sosial,” ujar Fauzi Bowo.

Ia menambahkan, MH Thamrin dikenal memiliki empati dan kepekaan sosial yang tinggi, dengan selalu menempatkan kepentingan rakyat kecil—khususnya warga Betawi—sebagai prioritas utama perjuangannya.

“Nilai empati dan keberpihakan kepada rakyat kecil ini masih sangat relevan hingga hari ini. Jangan sampai berhenti pada slogan atau retorika,” tegasnya.

Fauzi Bowo berharap, nilai-nilai perjuangan MH Thamrin dapat terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus kaum Betawi dalam membangun kampung halaman serta mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang berdaya saing, berketahanan, dan sejahtera bagi seluruh warganya. [Hel]