Seputarpublik.com || MAKASAR, — Holding Perkebunan Nusantara melalui PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I mendukung penguatan ekosistem pangan nasional dengan menyiapkan lahan seluas 31 hektare untuk pengembangan program hilirisasi ayam terintegrasi (HAT) di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. (20/10/2026).
Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengatakan dukungan perusahaan tidak terbatas pada penyediaan lahan, tetapi juga mencakup upaya mengoptimalkan aset produktif perkebunan agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
“Peran PTPN I tidak berhenti pada penyediaan lahan. Perusahaan juga mendorong pemanfaatan aset produktif perkebunan agar memberikan nilai tambah sekaligus menjadi bagian dari pengembangan ekosistem peternakan modern,” kata Abdul Rivai Ras, sebagaimana disampaikan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bagian dari sinergi BUMN untuk membangun rantai pasok peternakan unggas dari hulu hingga hilir. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset perkebunan melalui kegiatan produktif yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
Dari total lahan yang disiapkan, sekitar 22 hektare diperuntukkan bagi pembangunan fasilitas pembibitan ayam dan pabrik pakan oleh PT Berdikari (Persero). Sementara itu, PT Ugiagri Harapan Indonesia (UHI) akan memanfaatkan lahan seluas 9 hektare untuk pembangunan kandang pemeliharaan dan fasilitas pemotongan unggas.
Program HAT tersebut berlokasi di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Pengembangannya menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat ekosistem pangan nasional, khususnya dalam mendukung ketersediaan protein hewani.
Abdul Rivai menyampaikan bahwa lokasi pembangunan telah ditinjau Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 25 September 2026 lalu.
Kunjungan tersebut, menurutnya, menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah dan BUMN dalam membangun ekosistem pangan yang terintegrasi.
“Kehadiran Bapak Menteri Pertanian di Desa Mappesangka menjadi dorongan moral sekaligus penegasan atas sinergi strategis BUMN dan pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan, khususnya pemenuhan protein hewani masyarakat,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pertanian didampingi Bupati Bone Andi Asman Sulaiman, jajaran direksi BUMN, perwakilan PTPN I, PTPN III, ID FOOD, PT Berdikari, serta sejumlah pihak terkait.
Abdul Rivai menjelaskan, pengembangan HAT dilakukan melalui skema kerja sama operasi (KSO) dengan dua mitra strategis. Bersama PT Berdikari, PTPN I menyiapkan pemanfaatan lahan seluas 22 hektare dengan jangka waktu kerja sama 30 tahun. Pada tahap awal, diusulkan pemanfaatan lahan seluas 15 hektare.
“Kolaborasi ini dirancang dari hulu ke hilir guna menciptakan rantai pasok unggas yang efisien, berdaya saing tinggi, dan memberi nilai tambah maksimal bagi perekonomian daerah,” tutur Abdul Rivai.
PTPN I menyatakan bahwa pemanfaatan aset untuk pengembangan HAT dilakukan dengan memperhatikan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, ketertiban administrasi, serta kesesuaian dengan ketentuan tata ruang.
Tahapan Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR) disebut telah diselesaikan. Perusahaan juga memastikan lokasi pembangunan rumah potong hewan unggas (RPHU) dan fasilitas penyimpanan berpendingin atau cold storage tidak berada pada kawasan yang tumpang tindih dengan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Region Head PTPN I Regional 8, Misran, menambahkan bahwa areal Kebun Camming yang dimanfaatkan untuk pengembangan proyek tersebut telah dipastikan sebagai lahan produktif dan, menurut perusahaan, tidak berada dalam konflik maupun okupasi pihak lain.
“Bagi kami, pengembangan HAT di Mappesangka menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan aset perkebunan sekaligus memperkuat kontribusi BUMN dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Misran.
Target Operasional dan Dampak Ekonomi Daerah
Pengembangan kawasan HAT diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja, tumbuhnya aktivitas usaha baru, serta terbentuknya rantai pasok pangan hewani yang lebih kuat di Sulawesi Selatan.
Menurut Misran, proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur peternakan, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan perputaran ekonomi pedesaan dan memperkuat posisi Kabupaten Bone serta Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah pemasok pangan hewani di kawasan timur Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta seluruh pihak mempercepat pembangunan agar fasilitas HAT dapat beroperasi sesuai target pemerintah.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo, HAT 1 Juli tahun depan sudah beroperasi. Ini salah satu penekanan Presiden kepada kami. Oleh karena itu, tidak ada lagi hambatan, baik dari segi birokrasi maupun teknis,” kata Amran.
Di areal yang dikelola PTPN I Regional 8 di Kebun Camming, PT Berdikari direncanakan mengembangkan sejumlah fasilitas, antara lain Farm Parent Stock (PS) Broiler, Farm PS Layer, unit penetasan atau hatchery, serta pabrik pakan terpadu.
Sementara itu, PT UHI direncanakan membangun kandang komersial, farm pullet, fasilitas peternakan ayam petelur komersial, Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), serta cold storage.
Melalui pengembangan fasilitas tersebut, program hilirisasi ayam terintegrasi di Kabupaten Bone diharapkan dapat memperkuat rantai pasok unggas, meningkatkan nilai tambah pemanfaatan aset perkebunan, serta mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.
*Penulis; Redaksi
(Sumber: PTPN I )