Beranda
Seputar Publik / Berita

PTPN IV PalmCo Bidik Ekspor CPO 759 Ribu Ton pada 2027, Pasar Asia Jadi Sasaran

Perusahaan menargetkan porsi ekspor mencapai 25% dari total penjualan pada 2027. Kerja sama dengan Kemendag diarahkan untuk memperluas akses pasar internasional, memperkuat ketertelusuran produk, dan menghadapi tuntutan keberlanjutan global.
PTPN IV PalmCo menargetkan ekspor CPO sebesar 759 ribu ton pada 2027 melalui perluasan pasar internasional dan kerja sama strategis dengan Kementerian Perdagangan. PTPN IV PalmCo menargetkan ekspor CPO sebesar 759 ribu ton pada 2027 melalui perluasan pasar internasional dan kerja sama strategis dengan Kementerian Perdagangan.

Seputarpublik.com || JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo menargetkan volume ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencapai 759.000 ton pada 2027. Target tersebut setara dengan sekitar 25% dari total penjualan perusahaan, seiring strategi memperluas pasar internasional, terutama di kawasan Asia.

Ekspansi ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan beradaptasi terhadap tuntutan keberlanjutan dan regulasi perdagangan global, termasuk European Union Deforestation Regulation (EUDR) atau regulasi Uni Eropa terkait produk bebas deforestasi.

Untuk mendukung target tersebut, PTPN IV PalmCo menjalin kerja sama strategis dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag). Nota kesepahaman itu ditandatangani di sela penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan kolaborasi lintas sektor tersebut tidak hanya ditujukan untuk merespons perubahan regulasi di Eropa, tetapi juga mempercepat transformasi perusahaan menjadi eksportir yang mampu menjangkau pasar global secara langsung.

Menurut Jatmiko, pasar internasional semakin memperhatikan aspek keberlanjutan, legalitas, dan ketertelusuran produk dalam rantai pasok komoditas.

“Ini merupakan langkah krusial bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperluas akses ke pasar internasional di tengah bayang-bayang regulasi ketat EUDR, yang akan berlaku pada 1 Januari 2027,” kata Jatmiko.

Ia menambahkan, penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) semakin penting dalam menghadapi persaingan internasional.

“Kinerja ESG bukan lagi hanya tentang mematuhi aturan, ini juga mengamankan akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi industri perkebunan nasional,” tegasnya.

Porsi Ekspor CPO Ditargetkan Naik Menjadi 25 Persen

Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV PalmCo, Rury C. Baskoro, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi perlu diimbangi dengan kemampuan membangun hubungan langsung bersama pembeli internasional.

Jaringan pasar yang disasar mencakup perusahaan penyulingan (refiners), pedagang komoditas (traders), hingga pengguna akhir (end-users).

Menurut Rury, strategi tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Porsi ekspor CPO perusahaan meningkat dari 1% pada 2024 menjadi 10% hingga September 2026.

“Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25 persen, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton,” ujar Rury.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas jangkauan pemasaran dan meningkatkan akses langsung ke pasar internasional.

Perkuat Ketertelusuran dan Sertifikasi Keberlanjutan

Menghadapi persyaratan EUDR, Rury menyatakan bahwa perusahaan memiliki perkebunan yang menurutnya dapat mendukung pemenuhan persyaratan terkait riwayat penggunaan lahan dan ketertelusuran produk.

Ia juga menyebut sertifikasi keberlanjutan, baik nasional maupun internasional, sebagai bagian dari upaya mendukung akses pasar. Sertifikasi yang disebutkan antara lain Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Perkebunan kami diwariskan dari zaman kolonial Belanda. Jadi, dapat dipastikan bahwa tidak ada deforestasi baru, tidak ada pendudukan lahan masyarakat, dan tidak ada konversi lahan hutan,” urai Rury.

Pernyataan tersebut merupakan penjelasan dari pihak perusahaan. Pemenuhan persyaratan EUDR tetap perlu dinilai berdasarkan ketentuan yang berlaku serta bukti ketertelusuran dan verifikasi yang relevan.

Kemendag Dorong Pasar Alternatif dan Desa Bisa Ekspor

Sementara itu, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, menyoroti pentingnya langkah proaktif untuk memperluas pasar alternatif di tengah tantangan perdagangan dengan Eropa.

Selain memperkuat pasar yang telah terbentuk melalui kerja sama antarpemerintah (Government-to-Government atau G-to-G), termasuk Tiongkok dan India, pemerintah juga menjajaki peluang pasar di Pakistan dan Filipina.

Kerja sama tersebut mencakup penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir untuk lima komoditas utama, yakni kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan gambir.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan PTPN IV PalmCo dalam pengembangan ekonomi inklusif melalui pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional perusahaan.

“Sebagai langkah nyata menuju penciptaan nilai ekonomi yang inklusif, kolaborasi ini juga menyepakati untuk memasukkan PTPN IV PalmCo dalam program prioritas 'Desa Bisa Ekspor',” ungkap Miftah.

Miftah berharap kerja sama lintas institusi tersebut menghasilkan manfaat yang terukur bagi industri nasional, mulai dari penguatan informasi pasar hingga perluasan kemitraan internasional.

“Kerja sama ini harus lebih dari sekadar penandatanganan dokumen. Kami berharap ini dapat memberikan intelijen pasar yang akurat, fasilitasi bisnis dengan pembeli internasional, peningkatan volume ekspor, dan kemitraan global yang berkelanjutan bagi Indonesia,” tutupnya.

Melalui kerja sama ini, PTPN IV PalmCo dan Kemendag menargetkan penguatan akses pasar ekspor, peningkatan daya saing produk perkebunan, serta pengembangan rantai pasok yang memenuhi tuntutan keberlanjutan pasar global.(Redaksi.)*

Sumber: Rilis PTPN IV PalmCo dan Kemendag