Sebagai kampus berasrama, UNDHARI memiliki potensi untuk menjadikan literasi bukan hanya bagian dari aktivitas di ruang perkuliahan, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan sehari-hari dan interaksi mahasiswa.
Model RELIMA Goes to Campus relatif sederhana untuk dikembangkan. RELIMA membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, memetakan kebutuhan mahasiswa, mengintegrasikan literasi ke dalam agenda yang telah berjalan, membekali dan melibatkan mahasiswa, kemudian mendorong mahasiswa membawa praktik baik literasi menuju masyarakat.
Karena berbentuk model dan pendekatan, inovasi tersebut juga memungkinkan untuk diadaptasi oleh perguruan tinggi di daerah lain. Bentuk kegiatannya tidak harus sama.
Kampus kependidikan dapat memperkuat literasi sekolah, kampus kesehatan dapat mengembangkan literasi kesehatan, kampus teknologi dapat memperkuat literasi digital, sementara perguruan tinggi lainnya dapat menyesuaikan dengan bidang keilmuan dan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.
Bagi Amar, tujuan akhirnya bukan sekadar memperbanyak kegiatan.
«“Kami ingin bergerak dari ‘literasi untuk mahasiswa’ menjadi ‘literasi bersama mahasiswa untuk masyarakat’. Kampus menjadi simpulnya, mahasiswa menjadi penggeraknya, dan masyarakat menjadi ruang tempat manfaat literasi itu diperluas,” tegasnya.»
Dari Dharmasraya, RELIMA Goes to Campus membawa gagasan bahwa gerakan literasi tidak selalu harus menciptakan ruang baru. Ruang-ruang yang sudah ada di lingkungan kampus dapat dihidupkan, dihubungkan, dan dikembangkan menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih luas.
Dibekali, dilibatkan, digerakkan. Mengabdi, lalu melahirkan penggerak berikutnya.
Semangat tersebut menjadi bagian dari RELIMA Goes to Campus UNDHARI dalam mendorong literasi bergerak dari lingkungan kampus menuju masyarakat.(Red.)*
Komentar