Beranda
Seputar Publik / Berita

Satgas PRR Bersihkan 658 Lokasi Terdampak Bencana di Sumatera

Program padat karya (cash for work) percepat pemulihan wilayah, pembersihan lumpur jadi prioritas utama rehabilitasi pascabencana
Kasatgas PRR Tito Karnavian meninjau Proses pembersihan lumpur oleh Satgas PRR di wilayah terdampak bencana di Sumatera sebagai bagian dari percepatan pemulihan pascabencana. Kasatgas PRR Tito Karnavian meninjau Proses pembersihan lumpur oleh Satgas PRR di wilayah terdampak bencana di Sumatera sebagai bagian dari percepatan pemulihan pascabencana.

Seputarpublik.com, SUMATERA — Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pembersihan lumpur di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Berdasarkan data per 27 April 2026, sebanyak 658 lokasi terdampak telah berhasil dibersihkan dari lumpur. Rinciannya, di Aceh sebanyak 607 lokasi telah selesai dibersihkan dari total 634 lokasi sasaran. Di Sumatera Utara, 22 dari 23 lokasi telah rampung, sementara di Sumatera Barat seluruh 29 lokasi sasaran telah dibersihkan.

Capaian ini menunjukkan progres signifikan dibandingkan kondisi pada 6 April 2026, di mana saat itu baru 527 lokasi yang berhasil dibersihkan.

Percepatan tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kementerian dan lembaga, praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta penerapan skema padat karya tunai (cash for work) dengan melibatkan masyarakat setempat melalui pemberian upah harian maupun bulanan.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pembersihan lumpur menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana.

Ia menjelaskan, proses pembersihan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama difokuskan pada pembukaan akses jalan nasional yang telah rampung 100 persen dan dapat difungsikan sejak 25 Januari 2026.

Sementara itu, tahap kedua difokuskan pada pembersihan lumpur di berbagai fasilitas penting, seperti sekolah, kawasan perkantoran, serta fasilitas umum lainnya, termasuk puskesmas dan tempat ibadah.

Menurut Tito, pembersihan lumpur merupakan langkah krusial untuk memulihkan aktivitas masyarakat dan mengembalikan fungsi layanan publik di wilayah terdampak.

Ia juga menyoroti kondisi berat yang sempat terjadi di wilayah Aceh Tamiang, di mana sejumlah fasilitas publik terdampak parah akibat bencana.

“Persoalan di Aceh Tamiang cukup berat, mulai dari sekolah yang masih menggunakan tenda hingga puluhan kantor desa yang terdampak. Namun, secara bertahap fasilitas tersebut telah berhasil dibersihkan melalui kolaborasi berbagai pihak,” ujarnya.

Upaya percepatan ini juga didukung oleh pengerahan personel secara bertahap serta penggunaan alat berat yang disiapkan guna mempercepat proses pembersihan di lapangan.

Satgas PRR memastikan, proses rehabilitasi dan rekonstruksi akan terus dilakukan secara berkelanjutan hingga seluruh wilayah terdampak dapat pulih dan kembali berfungsi secara normal.(Red)*