Ketegangan yang meningkat di kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, mulai berdampak pada stabilitas ekonomi global. Negara-negara mitra melaporkan adanya tekanan akibat gangguan distribusi energi dan perdagangan.
Sejumlah sekutu awalnya melihat peluang meredakan konflik setelah muncul sinyal diplomatik. Namun, langkah militer yang agresif justru memperburuk kepercayaan.
“Memindahkan semua aset itu ke Teluk hanya untuk memanggilnya kembali, jika kesepakatan tercapai adalah langkah yang cukup mahal,” kata seorang diplomat Asia kepada Politico.
Sementara itu, diplomat Eropa menilai ambiguitas kebijakan ini mungkin disengaja. “Hal ini menguntungkan pemerintah karena mereka memiliki pilihan untuk mundur dan mengklaim kemenangan, atau meningkatkan eskalasi,” ujarnya.
Jalur Negosiasi Masih Abu-abu
Amerika Serikat dilaporkan berupaya membuka jalur negosiasi melalui Pakistan. Di sisi lain, Kabul menyatakan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri di tengah meningkatnya tekanan militer.
Ketegangan tetap tinggi, terutama dengan potensi penggunaan pengaruh Iran atas Selat Hormuz sebagai respons terhadap tekanan dari AS dan Israel. Hingga kini, arah kebijakan Washington masih belum jelas, meninggalkan ketidakpastian bagi sekutu maupun stabilitas kawasan global.
Sumber: Kantor Berita Al Mayadeen
Dikutip oleh: Heru Riyadi, Penasehat AMKI & Dosen FH Universitas Pamulang
Komentar