Seputarpublik.com, ACEH TENGAH — Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, meninjau langsung lokasi sinkhole atau lubang raksasa akibat longsoran geologi di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/4/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lubang raksasa tidak semakin meluas dan tidak mengancam lahan milik warga, mengingat wilayah Aceh saat ini masih dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Dalam peninjauan tersebut, Tito secara saksama mendengarkan pemaparan teknis dari tim penanganan longsoran yang ditugaskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Ia juga menanyakan langsung perkembangan stabilisasi di sejumlah titik pantau.
“Apakah sudah cukup stabil di beberapa titik? Bagaimana cara mengatasi aliran air agar tidak terus masuk ke lubang?” tanya Tito kepada tim di lapangan.
Setelah menerima laporan progres yang menunjukkan perkembangan positif, Tito menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah bekerja intensif menangani longsoran agar tidak semakin meluas.
Pelaksana Tugas Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Yusrizal Kurniwan, mengapresiasi perhatian langsung dari Ketua Satgas PRR yang turun ke lapangan untuk memantau kondisi serta upaya penanganan yang dilakukan.
Yusrizal menjelaskan, terbentuknya sinkhole tersebut dipicu oleh longsoran bertubi-tubi yang menyebabkan tanah amblas semakin luas, diperparah oleh karakteristik tanah berpasir di lokasi.
“Longsoran terjadi berulang sehingga membentuk lubang besar. Kondisi tanah yang berpasir juga mempercepat proses tersebut,” jelasnya.
Untuk mencegah perluasan longsor, tim telah menerapkan sejumlah langkah teknis, antara lain pengalihan jalur air serta modifikasi sistem irigasi menuju area yang lebih stabil agar tidak terkonsentrasi di titik longsoran.
Selain itu, pembangunan sumur intercept juga dilakukan untuk mengurangi kejenuhan air di dalam tanah sekaligus mendukung sistem drainase yang lebih efektif.
“Kami juga membuat sumur intercept untuk mengeluarkan air dari area longsoran dan menata sistem irigasi baru,” tambah Yusrizal.
Ia mengungkapkan, kondisi terkini menunjukkan perkembangan signifikan, di mana titik longsoran yang sebelumnya berjumlah lima kini menyisakan satu titik utama yang masih menjadi fokus penanganan.
Yusrizal optimistis dalam waktu dekat kondisi lahan akan semakin stabil dan tidak lagi mengancam aktivitas masyarakat, khususnya sektor pertanian.
“Mudah-mudahan segera stabil secara permanen sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas, terutama bercocok tanam cabai dan kopi,” ujarnya.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Satgas PRR dalam memantau progres rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera, sekaligus memastikan kondisi penyintas dan lingkungan terus membaik.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Bupati Aceh Tengah Haili Yoga, serta unsur Forkopimda setempat.
Upaya terpadu ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.(red)*
Sumber: Kemendagri