Seputarpublik, Mataram – Menggali Potensi Hutan dan Mangrove, Arah Pengembangannya serta Urgensi Berdirinya Badan Pengelola Lingkungan Hidup di NTB Melalui FGD Sesi-2 Matching Fund.
Program Matching Fund Dikti Tahun Anggaran 2023 yang diimplementasikan oleh Universitas Muhammadiyah Mataram bersama Mitra Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengambil tema “Inovasi Pembangunan Rendah Emisi melalui Sustainable Forest Management Policy dan Ekonomi Hijau Studi Kasus Kawasan Hutan Pendidikan”.

Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram Drs Abdul Wahab, MA dalam sambutannya pada kegiatan FGD sesi ke-dua yang di wakili oleh Wakil Rektor I Bidang akademik Dr. Harry Irawan Johari, S.Hut.,M.Si, menyebutkan bahwa hutan pendidikan ini sangat ideal sebagai tempat belajar, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarkat. Dr. Harry pun mendukung jika riset kolaboratif dan kerjasama dapat dilakukan di tempat ini. Riset kolaboratif diakui sebagai satu cara untuk meningkatkan kemampuan para peneliti.
Dalam mengelola hutan pendidikan, Universitas Muhammadiyah Mataram memiliki konsep agar hutan pendidikan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat sekitar termasuk meningkatkan taraf ekonomi. Dengan demikian, akan menghindari pergesekan kepentingan dengan masyarakat sekitar.

KHDTK dapat mewakili berbagai jenis ekosistem, habitat, iklim dan jenis tanah sehingga diharapkan dapat dipelajari aspek teknis dan sosial ekonomi pengelolaan hutan, termasuk aspek-aspek silvikultur, konservasi tanah dan air, pelestarian alam dan perlindungan hutan, perkembangan tiap pertumbuhan. Koleksi tumbuhan pohon dan vegetasi alam yang ada dalam KHDTK berpotensi dan diperlukan untuk program pemuliaan, budidaya pohon dan konservasi in situ maupun ex situ. Selain itu, pada KHDTK juga dapat diterapkan berbagai penelitian, percobaan dan pembangunan model percontohan yang bermanfaat untuk menentukan sistem pengelolaan hutan lestari bersama masyarakat.
Dalam Laporannya Tim Leader Matching Fund 2023 Dr. Nurjannah S, SH.,MH, memberikan informasi bahwa FGD Sesi Kedua ini mengangkat sub tema yang dirasakan penting dan urgent terkait potensi hutan dan mangrove di NTB. Hutan seluas 1 juta Ha, di NTB terdiri dari hutan primer dan sekunder adalah sumber daya yang cukup besar untuk wajib dijaga kelestarian dan fungsinya, secara ekologi, ekonomi dan social budaya. Berkaca dari kehadiran Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang merupakan Badan Layanan Umum di bawah Kementerian keuangan, maka pada tingkat lokal, BPDLH ini juga dirasakan perlu dan penting untuk mengakomodasi dan memanagerial penghimpunan pendanaan perlindungan lingkungan serta penyalurannya, secara fleksibel yang berasal dari dana public dan/atau private. BPDLH dimaksudkan sebagai solusi pengelolaan dana publik dan swasta dari dalam dan luar negeri termasuk dana bantuan lembaga internasional untuk membangun lingkungan hidup. Semoga kedepan, formulasi dari BPDLH mampu menjadi solusi futuristic dan implementatif.
Pada FGD Sesi kedua ini, narasumber merupakan Pemerhati dan pendamping Komunitas, Ibu Theresia Susanti, M.Si, Mr. Jared Moore dari One Tree Planted, Project Manager Restorasi Hutan di 8 Negara Asia, bapak Julmansyah, S.Hut.,M.Si Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, Bersama Moderator Joni Syafaat Adiansyah, P.hD. Peserta berasal dari berbagai kalangan seperti Prof. Dr. Muhammad Sood, Akademisi/Pakar Hukum Bisnis Universitas Mataram, Fuad A Rahman dari Indonesian Conservation, Sejati Farm/Pengusaha, Kelompok tani Hutan KHDTK UMMAT, serta akademisi, Praktisi, Pemerhati lingkungan lainnya.
Dalam pemaparannya para narasumber memberikan informasi bahwa jenis project karbon terdiri dari 3 yaitu pertama Konservasi, Avoided Emission, REDD+. Kedua Restorasi, afforestation, reforestation, dan Restoration (ARR). Ketiga produksi, improved Forest management (IFM). Dan model project kedua lebih memiliki daya Tarik dan peluang melalui penanaman hutan baru. Kebijakan perdagangan karbon di Indonesia semakin jelas arahnya, mulai dari tahun 2022 dilakukan moratorium, hadirnya Permen LHK 21 tahun 2022 tentang Nila. (Team SP)