Seputar Publik / Berita

Usia 70 Tahun, Sarnadi Adam Punya Satu Harapan: Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta

Setengah abad berkarya, maestro seni rupa asal Jakarta itu berharap Pemprov DKI menghadirkan museum yang menjadi ruang edukasi, laboratorium seni, sekaligus warisan bagi generasi muda.
Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang. Di usia 70 tahun dan setelah lima dekade berkarya, Sarnadi Adam menyimpan satu harapan: hadirnya Museum Seni Lukis Betawi di Jakarta sebagai ruang edukasi, dokumentasi, dan warisan seni bagi generasi mendatang.

Lahir di Jakarta pada 27 Agustus 1956, Sarnadi mulai mengakrabi dunia seni rupa sejak usia muda.

Pendidikan seninya ditempuh di Yogyakarta sebelum kemudian memasuki dunia akademik sebagai pengajar seni rupa di Universitas Negeri Jakarta.

Kariernya sebagai perupa berkembang melalui berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Karya-karyanya yang banyak merekam kehidupan Betawi kemudian membawanya ke berbagai ruang seni di Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat.

Jejak pengabdiannya di dunia seni juga diikuti sejumlah penghargaan. Di antaranya penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, penghargaan sebagai Dosen Teladan Universitas Negeri Jakarta, penghargaan Pelukis Terbaik DKI Jakarta, Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden RI pada 2000, serta penghargaan The Exclusive Figure in Asia 2003 dari Wakil Presiden RI.

Sarnadi juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode 2009–2012 dan 2013–2015.

Setelah perjalanan panjang tersebut, ia kini ingin melengkapi catatan perjalanan hidup dan karya seninya.

Tulis Komentar

Komentar