Wiyagus juga menyoroti beragam inovasi pengelolaan persampahan yang kini berkembang, salah satunya melalui pendekatan waste to energy. Pemerintah, kata dia, terus mendorong implementasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai upaya pengelolaan sampah yang komprehensif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Dalam konteks ini, konsep aglomerasi persampahan menjadi sangat penting dan strategis untuk dikembangkan. Aglomerasi merupakan pendekatan kolaboratif antardaerah dalam pengelolaan sampah, sehingga persoalan dapat ditangani secara lebih efektif dan terintegrasi,” jelasnya.
Menurut Wiyagus, konsep aglomerasi persampahan merupakan ikhtiar mendorong daerah untuk berkolaborasi secara nyata dalam menangani sampah. Untuk mewujudkannya, diperlukan ekosistem yang mampu menjamin tersedianya infrastruktur dan sistem pengelolaan persampahan yang terintegrasi antardaerah.
Dalam kesempatan tersebut, Wamendagri mengapresiasi berbagai usulan kerja sama antarpemda dalam pengelolaan sampah. Ia menilai kolaborasi tersebut sebagai langkah positif, terlebih dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik yang membuka ruang kerja sama antardaerah.
“Dengan semangat otonomi daerah, saya berharap pemerintah daerah dapat terus memperkuat kolaborasi dalam penanganan sampah,” ujarnya.
Wiyagus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber dan peserta forum yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, serta komunitas masyarakat sipil yang berkontribusi memberikan pandangan dan solusi atas persoalan persampahan nasional.
Forum tersebut turut dihadiri Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri Yusharto Huntoyungo, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan, serta perwakilan kementerian/lembaga dan pihak terkait lainnya. [Red]
Puspen Kemendagri
Komentar