> "Momentum ini harus dijaga agar sinergi kerja kebudayaan dalam memperkuat bahasa, tradisi, dan identitas Jakarta terus berkembang," kata Imbong.
Sementara itu, Hikmiyyah Salsabila dari Historia Batavia menyoroti pentingnya literasi budaya bagi generasi muda.
Menurutnya, minat generasi muda terhadap budaya Betawi sebenarnya cukup tinggi. Namun, mereka masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber pembelajaran sejarah dan budaya yang memadai.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara komunitas budaya, akademisi, media, dan pelaku seni menjadi langkah penting agar pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Betawi dapat diwariskan secara benar di tengah derasnya arus informasi digital.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa warisan Ali Sadikin tidak hanya berupa pembangunan fisik maupun lembaga kebudayaan, tetapi juga berupa visi besar yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Jakarta.
Sejak membuka Pralokakarya Penggalian dan Pengembangan Seni Budaya Betawi pada 1976, Ali Sadikin telah meletakkan dasar kuat bagi pelestarian budaya Betawi sebagai identitas ibu kota. Lima dekade kemudian, gagasan tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan pelestarian budaya di era modern.
Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin menjadi pengingat bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya dikenang melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui nilai, gagasan, dan warisan kebudayaan yang terus hidup serta diwariskan kepada generasi penerus. (Icoel)*
Komentar