Menurutnya, setiap gagasan mengenai pengembangan budaya selalu ditindaklanjuti melalui langkah konkret. Salah satunya adalah upaya memodernisasi seni Lenong agar lebih mudah diterima masyarakat luas.
Ia menjelaskan, Ali Sadikin pernah meminta Wahyu Sihombing bersama Dewan Kesenian Jakarta menyusun konsep teatrikal yang lebih kuat bagi pertunjukan Lenong. Sentuhan dramaturgi tersebut membuat kesenian tradisional Betawi berkembang dari hiburan rakyat menjadi pertunjukan yang tampil di Taman Ismail Marzuki hingga disiarkan melalui TVRI.
Pada dekade 1970-an, Lenong bahkan mencapai masa keemasannya dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Bokir dan Nasir yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Sementara itu, Yoyo Muchtar menilai keberhasilan Ali Sadikin tidak terlepas dari karakter kepemimpinannya yang disiplin, tegas, dan menjunjung tinggi integritas.
Sebagai mantan aparatur sipil negara pada masa kepemimpinan Ali Sadikin, Yoyo mengaku menyaksikan langsung komitmen Bang Ali dalam menolak praktik korupsi maupun penyimpangan dalam pembangunan Jakarta.
> "Disiplinnya luar biasa. Beliau selalu mengatakan negara hanya bisa maju kalau disiplin ditegakkan. Bang Ali juga tidak pernah memberi ruang terhadap korupsi dalam proyek pembangunan," ungkapnya.
Komentar