Devyanti menilai ekosistem pelestarian bahasa perlu dibangun secara menyeluruh melalui dukungan pemerintah, lembaga kebahasaan, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, media massa, ruang publik, industri kreatif, dunia usaha, hingga masyarakat.
> "Bahasa Betawi harus hadir di ruang-ruang publik, media digital, industri kreatif, dan kehidupan masyarakat sehingga pewarisan bahasa dapat terus berjalan," katanya.
Menurutnya, Bahasa Betawi merupakan bagian penting dari identitas Jakarta yang dapat memperkuat karakter kota menuju usia lima abad sekaligus mendukung daya saing Jakarta sebagai kota global.
Namun demikian, Devyanti mengungkapkan bahwa jumlah penutur Bahasa Betawi, khususnya di kalangan generasi muda, terus mengalami penurunan. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah meningkatnya penggunaan bahasa asing yang dianggap lebih modern dibandingkan bahasa daerah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kebanggaan, kesetiaan, dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan Bahasa Betawi dalam kehidupan sehari-hari.
> "Sebetulnya pemerintah daerah sudah memiliki dasar regulasi yang jelas mengenai kewajiban melestarikan bahasa daerah. Yang dibutuhkan sekarang adalah penguatan implementasi agar Bahasa Betawi tetap hidup sebagai identitas Jakarta," tuturnya.
Simposium Kebudayaan Jakarta 2026 mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, budayawan, komunitas, dan masyarakat untuk merumuskan strategi penguatan bahasa, tradisi, dan identitas budaya menjelang peringatan 500 tahun Kota Jakarta.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, serta menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas arah kebijakan pelestarian budaya di ibu kota.(*/hel)
Komentar