Seputar Publik / Opini

Dari Wartawan ke Presiden Sidang PBB: Jejak Global Adam Malik, Jurnalis Indonesia yang Menggema di Dunia

Kisah autodidak Adam Malik, pendiri Kantor Berita Antara dan Presiden Majelis Umum PBB, menjadi inspirasi lintas generasi tentang peran jurnalis Indonesia di panggung internasional
 Heru Riyadi mengulas perjalanan Adam Malik, wartawan autodidak asal Sumatera Utara yang menembus panggung diplomasi dunia hingga menjadi Presiden Majelis Umum PBB. Kisah ini menegaskan bahwa jurnalisme, pengalaman, dan keberanian dapat mengantarkan insan pers Indonesia berkiprah di level global dan memberi inspirasi bagi generasi muda. Heru Riyadi mengulas perjalanan Adam Malik, wartawan autodidak asal Sumatera Utara yang menembus panggung diplomasi dunia hingga menjadi Presiden Majelis Umum PBB. Kisah ini menegaskan bahwa jurnalisme, pengalaman, dan keberanian dapat mengantarkan insan pers Indonesia berkiprah di level global dan memberi inspirasi bagi generasi muda.

Berkat kepiawaiannya pula, Indonesia berhasil kembali menjadi anggota PBB pada 1966 dan menjadi salah satu pendiri ASEAN melalui Deklarasi Bangkok pada tahun 1967. Ia adalah bukti nyata bahwa bahasa diplomasi tidak melulu soal istilah teknis yang rumit, melainkan soal integritas dan kemampuan meyakinkan orang lain.

Dari Istana Wakil Presiden hingga Akhir Hayat

Setelah sukses mengharumkan nama bangsa di kancah global dan menjabat sabagai Menteri Luar Negeri selama 11 Tahun, Adam Malik mencapai puncak pengabdian domestiknya saat dilantik menjadi Wakil Presiden RI ketiga pada tahun 1978.

Meskipun sudah berada di puncak kekuasaan, ia tetaplah sosok yang rendah hati dan ceplas-ceplos. Ia wafat pd 5 September 1984 dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Tahun 1998 sabagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang tak ternilai.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Kisah Adam Malik adalah pengingat keras bagi kita semua: bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk mengguncang dunia.

Gajah mati meninggalkan gading,

Manusia mati meninggalkan nama.

Penulis: Heru Riyadi SH., MH.

Penasehat DPP AMKI & Dosen Universitas Pamulang.

Tulis Komentar

Komentar