Namun di perantauan, ia belajar secara autodidak dari seorang pedagang, ia bertransformasi menjadi wartawan militan. Dengan dengan modal nekat dan mesin tik tua, ia bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Kantor Berita Antara. Di tangan "Si Kancil" julukan akrabnya karena kecerdikannya, berita-berita perjuangan Indonesia berhasil menembus barikade informasi penjajah.
Mencetak Sejarah di Podium PBB
Karier diplomatik Adam Malik mencapai puncaknya pada tahun 1971. Dalam sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, pria bersahaja dari Sumatra Utara ini terpilih menjadi Ketua/Presiden Majelis Umum PBB.
Di gedung kaca yang jadi pusat politik dunia tersebut, Adam Malik memimpin jalannya persidangan penting, termasuk memutuskan keanggotaan Republik Rakyat Tiongkok (RRC) di PBB. Dunia Internasional terperangah melihat seorang autodidak mampu memimpin forum diplomatik paling rumit di bumi dengan sangat tenang dan piawai.
"Semua Bisa Diatur": Diplomasi Tanpa Sekat, Adam Malik dikenal memiliki "1001 jawaban" untuk setiap masalah. Kalimat legendarisnya, "Semua bisa diatur", jadi ciri khas gaya diplomasinya. Bagi Bung Adam, tidak ada kebuntuan yang tidak bisa dipecahkan melalui komunikasi yang cerdas.
Komentar