“Jika kemampuan anggaran pemerintah terbatas, coba libatkan masyarakat, kolaborasi dengan dunia usaha. Presiden Prabowo perlu turun tangan merangkul tokoh-tokoh masyarakat, dunia usaha, ikut membina olahraga. Model ini pernah sukses dilakukan Presiden Soeharto di masa Orde Baru,” ujar Hendry.
Bonus Penting, Tetapi Pembinaan Lebih Fundamental
Peserta Diskusi Kebangsaan FWK pada prinsipnya menilai bonus merupakan salah satu bentuk penghargaan atas perjuangan atlet. Namun, bonus dipandang tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Karena itu, FWK mendorong agar pembinaan olahraga nasional dilakukan melalui proses panjang, mulai dari pencarian dan pembinaan bibit atlet, kualitas pelatih, fasilitas latihan, kompetisi berjenjang, hingga dukungan pendanaan yang berkesinambungan.
Bagi FWK, prestasi di arena pertandingan merupakan hasil dari proses panjang yang telah dibangun jauh sebelum seorang atlet berdiri di podium.
“Olahraga harus dibina melalui proses. Tidak cukup hanya mengambil hasil di akhir dengan memberikan bonus,” demikian pokok pandangan yang mengemuka dalam diskusi FWK.
FWK berharap perjuangan kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dapat membuahkan prestasi terbaik sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pembinaan olahraga nasional secara berkelanjutan.(Red.)*
Komentar