Seputar Publik / Berita

FWK Soroti Fenomena Olok-Olok Presiden, Hendry Ch Bangun: Kritik Boleh, Tapi Jangan Lukai Martabat Bangsa

Forum "Reboan" menilai kebebasan berpendapat harus diiringi tanggung jawab moral agar kritik tetap konstruktif dan tidak berkembang menjadi penghinaan terhadap kepala negara.
Mantan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun bersama tokoh pers nasional dalam diskusi FWK mengajak seluruh elemen bangsa membangun budaya kritik yang santun, beradab, dan bertanggung jawab, Rabu (5/8/2026). Mantan Wakil Ketua Dewan Pers Hendry Ch Bangun bersama tokoh pers nasional dalam diskusi FWK mengajak seluruh elemen bangsa membangun budaya kritik yang santun, beradab, dan bertanggung jawab, Rabu (5/8/2026).

«"Belakangan ini kita menyaksikan Presiden banyak menjadi sasaran olok-olok di media sosial. Kita memahami bahwa masyarakat sedang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian kalangan. Namun demikian, sebagai bangsa yang beradab, kita harus mampu membedakan antara kritik yang konstruktif dengan tindakan yang menjurus pada penghinaan terhadap kepala negara. Presiden adalah simbol negara. Menjaga kehormatan institusi kepresidenan pada hakikatnya adalah menjaga marwah bangsa Indonesia di mata dunia," ujar Hendry.»

Ia menambahkan bahwa demokrasi tidak akan kehilangan kualitasnya hanya karena kritik disampaikan dengan bahasa yang santun. Sebaliknya, kritik yang berbasis data, argumentasi, dan solusi justru akan memperkuat kualitas demokrasi sekaligus menjadi masukan yang bernilai bagi pemerintah.

Pada kesempatan yang sama, wartawan senior Iqbal Irsyad menilai bahwa substansi kritik publik seharusnya diarahkan kepada proses pengambilan kebijakan maupun pihak-pihak yang berada di sekitar Presiden, bukan kepada pribadi kepala negara.

Tulis Komentar

Komentar