“Dulu kan zaman baba saya sering banget,” kenangnya.
Sebagai pengajar karawitan Betawi di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, Andi mengaku menghadapi tantangan dalam menanamkan kecintaan terhadap musik tradisi kepada generasi muda.
Menurutnya, mengenalkan musik seperti Gambang Kromong kepada siswa bukan perkara mudah. Padahal, generasi Z hingga generasi Alfa memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian musik tradisional karena sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform musik digital.
Namun, menurut Andi, teknologi saja tidak cukup. Rasa cinta terhadap budaya perlu tumbuh terlebih dahulu agar generasi muda terdorong untuk mempelajari sekaligus mengembangkan musik tradisi.
Musik Betawi Terbuka untuk Kolaborasi
Andi menegaskan bahwa musik Betawi bukan kesenian yang kaku. Sebaliknya, musik tradisional Betawi memiliki ruang yang luas untuk berkolaborasi dengan berbagai genre musik modern.
“Gambang Kromong, mau dibawa nge-jazz, oke aja,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh. Kolaborasi dengan musik modern justru dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga musik Betawi tetap relevan dengan perkembangan zaman dan perubahan selera masyarakat.
Komentar