Seputar Publik / Berita

Musik Betawi Kehilangan Ikon, Siapa Penerus Benyamin Suaeb?

Praktisi dan pengamat musik mendorong regenerasi, kolaborasi lintas genre, serta pemanfaatan platform digital untuk menjaga musik Betawi tetap hidup dan melahirkan ikon baru.
Diskusi dan Workshop Musik Betawi Sesi I dalam rangkaian Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026 membahas tantangan regenerasi dan masa depan musik Betawi di tengah perkembangan musik digital dan budaya populer. Diskusi dan Workshop Musik Betawi Sesi I dalam rangkaian Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026 membahas tantangan regenerasi dan masa depan musik Betawi di tengah perkembangan musik digital dan budaya populer.

“Dulu kan zaman baba saya sering banget,” kenangnya.

Sebagai pengajar karawitan Betawi di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, Andi mengaku menghadapi tantangan dalam menanamkan kecintaan terhadap musik tradisi kepada generasi muda.

Menurutnya, mengenalkan musik seperti Gambang Kromong kepada siswa bukan perkara mudah. Padahal, generasi Z hingga generasi Alfa memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian musik tradisional karena sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform musik digital.

Namun, menurut Andi, teknologi saja tidak cukup. Rasa cinta terhadap budaya perlu tumbuh terlebih dahulu agar generasi muda terdorong untuk mempelajari sekaligus mengembangkan musik tradisi.

Musik Betawi Terbuka untuk Kolaborasi

Andi menegaskan bahwa musik Betawi bukan kesenian yang kaku. Sebaliknya, musik tradisional Betawi memiliki ruang yang luas untuk berkolaborasi dengan berbagai genre musik modern.

“Gambang Kromong, mau dibawa nge-jazz, oke aja,” ujarnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh. Kolaborasi dengan musik modern justru dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga musik Betawi tetap relevan dengan perkembangan zaman dan perubahan selera masyarakat.

Tulis Komentar

Komentar