Kawasan Pabrik Teh Malabar kini menjadi pusat gravitasi ekonomi masyarakat sekitar perkebunan. Antusiasme pengunjung terlihat dari ramainya kendaraan yang memadati akses menuju area pasar. Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari luar daerah pun turut datang untuk menikmati suasana khas pasar tradisional di tengah hamparan kebun teh.
Bagi Holding Perkebunan Nusantara, Pasar Kalangan bukan sekadar ruang transaksi ekonomi, tetapi juga warisan sosial budaya yang terus dijaga keberlanjutannya.
“PTPN I (Persero) berkomitmen agar kemajuan perusahaan selalu berjalan selaras dengan peningkatan taraf hidup warga. Pasar Kalangan adalah bukti nyata bagaimana kami mengoptimalkan aset perkebunan menjadi ruang ekonomi yang inklusif. Kami merawat ekosistem sosial ini agar warisan sejarah tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi modal produktif bagi masyarakat untuk tumbuh mandiri,” tegas Teddy.
Sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, PTPN I (Persero) Regional 2 juga melakukan relokasi area pasar ke lokasi yang lebih luas dan representatif guna menampung meningkatnya jumlah pedagang dan pengunjung.
Dampak ekonomi dari keberadaan pasar tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Asep, pedagang pakaian asal Banjaran, mengaku mampu memperoleh omzet antara Rp5 juta hingga Rp8 juta dalam satu hari berjualan di Pasar Kalangan.
Sementara itu, Kartini (54), warga setempat yang menjual nasi uduk dan gorengan, mengaku dapat meraih pendapatan hingga Rp1 juta setiap pekan, yang digunakan untuk membantu biaya pendidikan anaknya.
Selain itu, perusahaan juga mendorong keterlibatan pemuda desa melalui kerja sama pengelolaan parkir bersama Karang Taruna, sebagai bagian dari upaya menciptakan sumber ekonomi mandiri bagi masyarakat sekitar.
Melalui Pasar Kalangan Malabar, PTPN I (Persero) menegaskan komitmennya dalam menjaga harmoni antara pengelolaan perkebunan dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus memastikan warisan sejarah tetap hidup sebagai bagian dari penguatan ekonomi rakyat di kawasan perkebunan.(Adv)*
Komentar