Melihat potensi tersebut, PalmCo kini mereplikasi program di Sumatera Utara dengan menginkubasi empat koperasi baru, yakni Koperasi Berkah Pandai Besi di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Koperasi Simpati Maju Bersama di Kabupaten Asahan, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa di Kabupaten Simalungun, dan Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai.
Secara kumulatif, inisiatif ini telah merangkul puluhan tenaga kerja lokal yang sebelumnya bekerja secara perorangan dan terpencar.
Pada tahap awal, PalmCo memfasilitasi transisi pengrajin individu menjadi kelembagaan berbadan hukum. Pendampingan meliputi penerbitan SK Koperasi, akta pendirian, NPWP, pendaftaran OSS, Nomor Induk Berusaha (NIB), Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), hingga proses sertifikasi SNI produk.
Langkah jemput bola tersebut mendapat apresiasi pelaku usaha. Asmadi Prayetno, Kepala Koperasi Berkah Pandai Besi Labuhanbatu Utara, menyebut legalitas dan SNI selama ini menjadi kendala utama pengrajin kecil.
“Kami sangat bersyukur PTPN IV PalmCo mau turun tangan merangkul kami. Dengan dibentuk menjadi satu wadah koperasi dan dibiayai pengurusan legalitasnya, produk kami kini memiliki payung hukum dan standar jelas untuk masuk ke perusahaan sebesar PalmCo,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Edy Syafrizal, Kepala Koperasi Simpati Maju Bersama Asahan. Menurutnya, legalitas dan pembinaan standar kualitas meningkatkan daya saing pengrajin untuk menembus pasar industri perkebunan yang lebih luas.
Setelah sukses di Riau dan mematangkan program di Sumatera Utara, PalmCo memastikan inisiatif ini akan terus diperluas. Saat ini, penjajakan awal dilakukan bersama kelompok UMKM pandai besi di Desa Koto Padang, Kota Sungai Penuh, Jambi, yang bernaung di bawah Koperasi DLN.
Ekspansi berkelanjutan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian pengrajin lokal sekaligus memperkuat ekosistem penyediaan alat pertanian perkebunan nasional yang ditopang karya anak bangsa. (red)*
Komentar