Berpengalaman lebih dari 25 tahun meliput di Kemenag, sejak era Menteri Agama Tarmizi Taher, Ismail mengatakan penghargaan ini terasa sangat istimewa baginya. Ia bahkan bersyukur datang dengan pakaian batik usai menghadiri agenda resmi lain.
“Kalau nggak pakai batik, wah malu juga menerima penghargaan pakai kaos dan celana jeans,” ucapnya sambil tertawa.
Ismail menilai Menag Nasaruddin Umar memiliki kedekatan emosional dengan dunia jurnalistik. “Beliau paham betul suka-duka wartawan. Maklum, dulu pernah jadi wartawan juga,” katanya.
Cerita 20 tahun lalu: Buku yang tak pernah dikembalikan
Ismail juga membagikan kisah lamanya bersama Nasaruddin Umar. Pada 2005, saat menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid At Tin Taman Mini, ia meminjam buku baru Nasaruddin yang saat itu masih berbentuk sampel cetak untuk diresensi.
“Ini baru sampel. Kembalikan ya. Kalau mau bukunya nanti saya kasih setelah dicetak,” kata Nasaruddin kala itu.
Namun hingga kini, Ismail mengaku belum sempat mengembalikan buku tersebut dan kerap menjadikannya rujukan tulisannya.
Menag: "Humas Award bukan seremoni"
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Humas Award bukan sekadar acara seremonial, melainkan komitmen memperkuat identitas Kemenag sebagai lembaga yang mengedepankan nilai dan empati.
Komentar