Selain itu, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi pola hubungan dan komunikasi yang tidak sehat dalam keluarga.
“Kehilangan atau kurangnya figur ayah sebagai sumber dukungan emosional dan role model memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kesulitan mengelola emosi, hingga mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, ketidakstabilan psikologis, serta gangguan komunikasi dan perilaku,” ujar Novi.
Ia menjelaskan, kondisi fatherless dapat terjadi dalam berbagai situasi, antara lain karena pekerjaan ayah yang mengharuskan meninggalkan keluarga dalam waktu cukup lama, perceraian kedua orang tua, ayah meninggal dunia, ayah menelantarkan anak, maupun kondisi ketika ayah tidak mengakui anaknya.
Menurutnya, keberadaan figur ayah dalam kehidupan anak dapat berperan dalam memberikan stabilitas, perlindungan, serta rasa aman.
Sementara itu, anggota tim, Dr. Silvie Mil, M.Pd., menyampaikan bahwa mitra sasaran sebelumnya belum memperoleh sosialisasi secara khusus mengenai dampak toxic relationship terhadap komunikasi dalam keluarga dengan kondisi fatherless.
Komentar