“Khusus ke kampung Basmol biasanya hari Jumat, sekaligus ziarah ke makam KH Abdul Majid,” ujarnya.
Dalam praktiknya, tradisi ini bersifat terbuka. Siapa pun dapat ikut bergabung, tidak terbatas hanya warga Betawi. Hal ini seiring dengan semakin kuatnya akulturasi budaya, di mana masyarakat Betawi banyak yang menikah dengan berbagai suku lain.
Sebagai tuan rumah, kegiatan biasanya berlangsung dari pagi hingga malam hari, dengan menyajikan beragam hidangan, mulai dari makanan ringan hingga menu utama.
Keterlibatan keluarga juga menjadi kunci keberlangsungan tradisi ini. Setiap generasi membawa anak-anak mereka untuk ikut serta dan saling mengenal.
“Semua keluarga saling mengenalkan kepada anak-anaknya. Itu yang membuat tradisi ini terus hidup,” kata H. Naman.
Kini, tradisi “keliling kampung” tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi telah menjelma sebagai simbol kuat kebersamaan, kekompakan, serta penghormatan masyarakat Betawi terhadap para ulama.
Tradisi ini pun diharapkan terus lestari dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menjaga nilai silaturahmi lintas generasi.(hel)*
Komentar