Seputar Publik / Berita

“Viral! Tradisi Lebaran Betawi Keliling Kampung 7 Hari di Duri Kosambi, Begini Asal-usulnya”

Warisan ulama lintas generasi di Cengkareng ini berkembang dari dua kampung hingga meluas ke berbagai wilayah, menjadi simbol kuat silaturahmi, kebersamaan, dan akulturasi budaya masyarakat Betawi.
Tradisi Lebaran Betawi “keliling kampung” di Duri Kosambi kembali viral! Warisan ulama yang sudah berlangsung puluhan tahun ini bukan sekadar silaturahmi, tapi simbol kuat kebersamaan dan kekompakan lintas generasi. Kini, tradisi ini terus hidup dan meluas, jadi inspirasi menjaga nilai budaya di tengah modernisasi. Tradisi Lebaran Betawi “keliling kampung” di Duri Kosambi kembali viral! Warisan ulama yang sudah berlangsung puluhan tahun ini bukan sekadar silaturahmi, tapi simbol kuat kebersamaan dan kekompakan lintas generasi. Kini, tradisi ini terus hidup dan meluas, jadi inspirasi menjaga nilai budaya di tengah modernisasi.

“Dulu kalau tidak dijadwalkan, kita datang orangnya tidak ada, bahkan bisa berpapasan di jalan. Akhirnya dibuat kesepakatan hari-harinya. Biasanya hari pertama untuk keluarga inti, termasuk ziarah ke makam orang tua,” kata dia.

Sejarah mencatat, tradisi ini awalnya hanya mencakup dua kampung, yakni Duri Kosambi dan Tanah Koja. Seiring waktu, tokoh agama seperti KH Ahmad Zaini dan KH Abdul Mubin memperluas jangkauan silaturahmi hingga mencakup lebih banyak wilayah.

Kini, rute keliling kampung semakin panjang, meliputi Duri Kosambi, Tanah Koja, Selong, Kampung Gunung, Cantiga, hingga Gondrong.

Di setiap titik, warga mengunjungi rumah ulama dan tokoh masyarakat sebagai bentuk penghormatan sekaligus mempererat hubungan sosial.

Salah satu warga, Abdul Gofur, menyebut tradisi ini terus berkembang, baik dari sisi durasi maupun jumlah kampung yang dikunjungi.

“Biasanya setelah hari kedelapan, warga baru bebas bepergian ke luar wilayah,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ustad Hazami. Ia menuturkan, pada masa lalu wilayah tradisi ini memang masih sangat terbatas.

Menurutnya, sejumlah ulama yang dikenal saat itu antara lain KH Muhammad Najihun, KH Ahmad Zaini, KH Arsyad, serta KH Asirun.

Seiring perkembangan wilayah dan interaksi masyarakat, tradisi ini pun meluas hingga menjangkau Kalideres, Cengkareng, Rawa Buaya, hingga Basmol.

Tulis Komentar

Komentar