Acara tersebut turut dihadiri Ketua Bamus Suku Betawi 1982 Jakarta Utara Moch Ichwan Ridwan, anggota Dewan Kota Jakarta Utara Radian Azhar, serta pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB). Kehadiran para tokoh dan komunitas ini mencerminkan kuatnya dukungan terhadap pelestarian warisan budaya Betawi berbasis literasi.
Penyerahan Bibit Pohon Sae
Dalam kesempatan itu, Prof. Sakamoto secara simbolis menyerahkan bibit pohon sae kepada Pondok Budaya Betawi Rorotan. Pohon sae, yang dikenal secara internasional sebagai paper mulberry, merupakan bahan utama pembuatan kertas daluang.
Pondok Budaya Betawi Rorotan tercatat sebagai komunitas pertama di Indonesia yang menerima bibit pohon sae langsung dari Prof. Sakamoto sebagai bagian dari upaya konservasi berkelanjutan.
Menghidupkan Kembali Kertas Daluang
Kertas daluang dibuat dari kulit pohon sae yang diolah melalui proses tradisional. Serat kayu dikuliti, dicuci, dikeringkan, lalu dipukul atau dikempa hingga melebar dua hingga tiga kali dari ukuran awal. Proses ini menghasilkan kertas dengan serat kuat dan tahan lama.
Secara historis, daluang telah dikenal sejak abad ke-9. Dalam naskah kuno Kakawin Ramayana, daluang disebut sebagai bahan pakaian para pandita. Pada masa berikutnya, daluang digunakan sebagai media naskah suci, penutup kepala (ketu), hingga media seni pertunjukan seperti Wayang Beber.
Memasuki era Islam di Nusantara, daluang semakin berkembang sebagai media literasi dan dokumentasi keagamaan.
Literasi Berbasis Alam dan Tradisi
Sinergi antara ilmu konservasi modern dan tradisi lokal melalui pelestarian pohon sae serta penghidupan kembali daluang menegaskan peran Pondok Budaya Betawi Rorotan sebagai pusat literasi budaya berbasis alam.
Langkah ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya literasi yang berakar pada sejarah dan kekayaan hayati Nusantara. {Hel}*
Komentar