Seputar Publik / Berita

Cara Menulis Sejarah Jadi Seru ala Betawi Rewrite: Dari Cerita Lisan hingga Konten Digital

Workshop kolaboratif di Jakarta dorong generasi muda menghidupkan kembali sejarah dan budaya Betawi melalui storytelling kreatif dan konten digital
Workshop Betawi Rewrite hadirkan pendekatan baru menulis sejarah Betawi dari cerita lisan hingga konten digital kreatif. Workshop Betawi Rewrite hadirkan pendekatan baru menulis sejarah Betawi dari cerita lisan hingga konten digital kreatif.

Yahya menambahkan, kawasan pesisir hingga pedalaman seperti Marunda, Bekasi, dan wilayah utara Jakarta menyimpan jejak peradaban yang dipengaruhi kerajaan besar seperti Tarumanegara dan Sriwijaya.

“Betawi adalah hasil proses sejarah panjang, bukan sekadar konstruksi kolonial,” tegasnya.

Ia juga menyoroti karakter masyarakat Betawi yang egaliter. Menurutnya, masyarakat Betawi terbuka terhadap siapa pun, meski tetap memiliki struktur sosial yang muncul dalam konteks tertentu.

“Dalam keseharian mungkin tidak terlihat, tapi dalam acara adat ada peran tokoh alim, guru, dan masyarakat. Struktur itu ada, hanya tidak kaku,” jelasnya.

Sementara itu, Redaktur Budaya Harian Kompas, M.Hilmi Faiq, memaparkan perbedaan antara tulisan opini dan esai. Ia menjelaskan bahwa opini bersifat tegas dan argumentatif, sedangkan esai lebih reflektif dan membuka ruang dialog.

“Opini mendorong pembaca untuk setuju, sementara esai mengajak pembaca berpikir bersama,” katanya.

Ia menambahkan, esai memberi kebebasan dalam penggunaan gaya naratif dan metaforis sehingga mampu menghadirkan ruang diskursus yang lebih luas.

Adapun Agung Zainal Muttaqin Raden dari Universitas Indraprasta PGRI menekankan pentingnya storytelling dalam pelestarian budaya di era digital. 

Ia menilai digitalisasi budaya harus dikemas secara kreatif, tidak sekadar memindahkan teks ke media digital.

Tulis Komentar

Komentar