“Harapannya, peserta mampu menulis opini, feature, atau membuat konten digital yang mengangkat kembali ingatan keluarga dan komunitas. Jika dibukukan, ini bisa menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya,” ujar Fadjriah.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Banten, Swedhie Hananta, mengungkapkan bahwa DKI Jakarta tahun ini memperoleh fasilitasi kebudayaan di delapan titik dari total 26 penerima bantuan.
Ke depan, program tersebut akan dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jakarta yang baru dibentuk.
Hal ini disambut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, Desse Yussubrasta, yang menyatakan pihaknya tengah memperkuat kelembagaan sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian budaya.
“Saat ini kami sedang menyiapkan kantor serta memperkuat fungsi pelestarian kebudayaan. Kolaborasi menjadi kunci,” katanya.
Dalam sesi materi, narasumber dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengkritisi pandangan yang menyederhanakan identitas Betawi sebagai produk kolonial semata.
“Betawi sering disebut sebagai suku ‘termuda’, padahal jejak sejarahnya jauh lebih panjang, bahkan sebelum Batavia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi sejumlah situs budaya yang masih memerlukan perhatian serius.
Menurutnya, temuan arkeologis menunjukkan adanya ratusan situs di kawasan Jakarta dan sekitarnya, meski banyak yang kini sulit ditelusuri akibat pembangunan modern.
Komentar