“Cerita sejarah bisa menjadi konten bernilai tinggi jika dikemas dengan strategi kreatif dan visual yang menarik,” ujarnya.
Menurutnya, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memiliki karakter berbeda dalam penyajian konten, mulai dari format singkat hingga dokumenter panjang.
“Yang penting, cerita tetap otentik, meski dikemas ulang agar relevan dengan audiens masa kini,” tegasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Beky Mardani, dan Sekretaris Umum LKB, Imbong Hasbullah.
Dalam sambutannya, Beky menegaskan bahwa setiap kampung memiliki cerita yang layak ditulis dan diwariskan.
Ia juga mendorong agar kegiatan serupa terus diperbanyak agar narasi-narasi Betawi tidak hilang, melainkan terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan mampu menghadirkan kembali narasi-narasi Betawi yang selama ini terpinggirkan, sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah arus digitalisasi yang kian cepat.(*/hel)
Komentar