Saya ingat, Bob Hasan ketika menjadi Ketua Umum PB PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) sering mengatakan, wartawan jangan hanya mencari-cari kesalahan atlet karena pada masa itu, media cetak umumnya selalu kejam memberitakan capaian atlet Indonesia. “Indonesia gagal meraih medali emas,” begitu misalnya ditulis kalau tim kita meraih medali perak setelah mengalahkan sejumlah lawan. Padahal di koran The Straits Times, atlet Singapura yang merebut perunggu ditulis dengan pujian dan memberi rasa bangga pada si atlet. Ya setiap prestasi harus dihargai, seberapapun pencapaiannya.
Tetapi itu tidak membuatheran karena kita hidup di masyarakat yang punya pepatah,”Sudah jatuh tertimpa tangga. Pengorbanan dan kerja keras kurang dihargai. Seseorang dapat menjadi korban dua kali. Itu sebabnya Dewan Pers menyusun antara lain Pedoman Pemberitaan Ramah Anak, Pedoman Pemberitaan Ramah Disabilitas, Pedoman Pemberitaan Terkait Upaya Bunuh Diri. Tujuannya adalah agar media membuat pemberitaan yang berempati, khususnya bagi mereka yang menjadi korban atau menghadapi sesuatu, atau trauma atas kejadian tertentu. ***
Dengan niat bahwa membuat berita adalah menanam kebaikan, bukan berarti media tidak boleh menyampaikan kritik, menghilangkan fungsinya untuk melakukan kontrol sosial sebagai pilar keempat demokrasi. Media harus tetap bersikap kritis atas sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan publik, khususnya penyelenggaraan negara. Hanya saja sudut pandang dan diksi yang dipakai, telah melalui pilihan yang dewasa dan bijaksana.
Ada pemimpin yang tidak suka ditunjuk hidung, dipermalukan, disudutkan, ya gunakanlah cara yang sesuai dengan kondisi sosiologis masyarakat. Dibutuhkan jam terbang tinggi dan kecerdasan emosial untuk matang sebagai wartawan dan menghasilan tulisan bagus yang tidak membuat tokoh atau pejabat cemberut. Saya tersenyum geli misalnya ketika melihat ada media yang membuat artikel tentang mantan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, yang konon kalau pidato kerap salah bicara angka, salah sebut, dan suka joget-joget di panggung. Orang tidak kompeten kok bisa jadi presiden? Ya bisa terpilih, karena direstui pendahulunya. Tidak perlu pintar untuk mengetahui apa pesan yang ingin disampaikan dari artikel itu.
Ya wartawan tidak boleh bosan belajar, dengan banyak membaca, berbicara dengan orang pintar dan bijak, dan tentu saja memahami esensi kehidupan bernegara dan bertanah air. Kalau sudah begini nanti profesi kewartawanan kita tidak lagi sekadar menjadi penyampai informasi, tetap penyebar kebaikan bagi umat manusia.
Wallahu a’lam bhisawab,
Ciputat 23 Agustus 2026
Penulis: Hendry Ch Bangun - Tokoh Pers Nasional dan Mantan wakil dewan pers.
Komentar