Menanam kebaikan melalui pohon ini sebenarnya sejalan dengan profesi wartawan, hanya saja yang dia tanam adalah berita yang diproduksinya, yang kemudian dibaca atau dinikmati pembaca atau pemirsa atau audiens. Berita yang bermutu, mencerahkan, memotivasi, melahirkan inspirasi sama seperti pohon berbuah banyak, berdaun lebat, dan meruapkan oksigen. Berita seperti ini hanya bisa lahir apabila dimulai dengan niat baik, perencanaan matang, pengumpulan data dan fakta yang standar, narasumber yang kompeten, ditulis dengan kata dan kalimat pas, dan sesuai dengan kode etik jurnalistik.
Memiliki kosa kata banyak, merupakan salah satu modal wartawan, dan artinya harus banyak membaca, buku, atau artikel, atau apapun. Beruntung di zaman awal kewartawanan kami masih harus menerjemahkan berita yang datang via teleks seperti AFP, Reuters. Di meja pimpinan masih ada koran terbitan luar negeri sehingga mengetahui dan mengenal kualitas tulisan wartawan professional dari manca negara. Bisa ditiru pemilihan diksi dan gaya bahasa mereka dan lama-lama apa yang dibaca itu sudah tertanam di kepala itu akan membentuk karakter diri dan membentuk ciri khas sendiri.
Komentar