Hobi menanam ini mencuat dalam diri saya setelah saya mendengar kutbah dalam sebuah salat Jumat di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada bulan Agustus 1991, bersama wartawan Antara waktu itu Bahran Asmawi. Ya 34 tahun silam saya diajak mengunjungi ruang kerjanya dan ruang kerja wartawan Kompas Threes Nio, dan karena bertepatan hari Jumat, kami salat berjamaah di salah satu ruangan besar. Saya sendiri ke New York untuk meliput kiprah petenis Indonesia Yayuk Basuki, yang akhirnya gugur di babak ketiga di tangan Monica Seles di babak ketiga turnamen grandslam AS Terbuka yang berlangsung di minggu kedua Agustus.
“Walaupun besok datang kiamat, kalau di tanganmu ada sebuah bibit, tanamlah,” ujar khatib, mengutip hadis (HR Bukhari & Ahmad) yang selengkapnya berbunyi, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika dia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.”
Hadis ini ingin menyampaikan selama masih ada nafas, tanamlah kebaikan, bahkan mungkin sampai helaan nafas terakhir. Dan pohon adalah bukti dari kebaikan itu sendiri. Pohon itu sesuatu yang bermanfaat banyak bagi manusia, ia menghasilkan buah, menghijaukan tanah yang gersang, mengeluarkan oksigen yang membersihkan udara, dll.
Komentar