Beranda
Seputar Publik / Berita

PDM Jakarta Timur Teguhkan Ideologi Muhammadiyah di Tengah Perubahan Zaman, Izzul Muslimin Tekankan Militansi dan Dakwah

Dalam Hari Bermuhammadiyah ke-23, Sekretaris PP Muhammadiyah M. Izzul Muslimin mengajak warga Muhammadiyah beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi ideologi, keikhlasan, dan semangat dakwah.
Dokumentasi penyerahan SK Sertifikat Nazhir Perwakilan, kepada PCM Cipayung bersama Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Cipayung. Dokumentasi penyerahan SK Sertifikat Nazhir Perwakilan, kepada PCM Cipayung bersama Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Cipayung.

Seputarpublik.com || JAKARTA – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur menggelar Hari Bermuhammadiyah (HBM) ke-23 dengan tema “Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah di Tengah Arus Perubahan Zaman”. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Joko Agung Purnomo atau Masjid Griya Agung Dakwah Muhammadiyah Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (9/8/2026).

Pengajian yang berlangsung pukul 08.00–11.30 WIB tersebut menghadirkan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah M. Izzul Muslimin sebagai narasumber.

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cipayung bertindak sebagai tuan rumah kegiatan yang diikuti jajaran pengurus Muhammadiyah, keluarga besar Muhammadiyah Cipayung serta masyarakat sekitar.

Tema pengajian dipilih untuk merespons perubahan sosial dan derasnya perkembangan teknologi informasi yang turut memengaruhi cara masyarakat memperoleh pengetahuan, memahami agama, serta menyikapi berbagai persoalan sosial.

Dalam pemaparannya, M. Izzul Muslimin menekankan pentingnya kemampuan warga Muhammadiyah beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi ideologi, nilai keislaman, dan karakter gerakan Muhammadiyah.

Menurutnya, ideologi tetap menjadi landasan dalam menjalankan gerakan, sementara dakwah harus dilakukan dengan pendekatan yang merangkul masyarakat.

> “Ideologi tetap harus kita punyai, tetapi dalam dakwah tetap harus merangkul,” ujar Izzul dalam forum tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga militansi warga Muhammadiyah. Menurutnya, kekuatan gerakan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi juga oleh komitmen dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Tantangan Perubahan Zaman

Izzul menyampaikan bahwa warga Muhammadiyah perlu memiliki pemahaman yang kuat terhadap identitas dan tujuan gerakan, sekaligus mampu membaca perubahan lingkungan sosial.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan agar perkembangan zaman tidak membuat warga Muhammadiyah kehilangan arah dalam menjalankan aktivitas dakwah dan organisasi.

Gagasan tersebut sejalan dengan pandangan yang turut disampaikan dalam forum bahwa Muhammadiyah merupakan salah satu bentuk ekspresi dalam menjalankan nilai-nilai Islam.

Dalam pemaparan mengenai tujuan bermuhammadiyah, disampaikan pula gagasan bahwa gerakan tersebut diarahkan untuk bersama-sama mengantarkan manusia menuju kehidupan yang diridai Allah, bukan sekadar mengantarkan orang lain, tetapi juga berupaya menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Penguatan Wakaf dan Kemandirian Organisasi

Selain membahas ideologi dan dakwah, forum juga menyoroti pentingnya pengelolaan aset dan wakaf untuk mendukung keberlanjutan kegiatan Muhammadiyah.

Dalam pemaparannya, disebutkan bahwa PCM Cipayung membutuhkan dukungan pembiayaan sekitar Rp2,3 miliar untuk pengembangan wakaf. Karena itu, diperlukan kreativitas dalam mencari sumber pendanaan, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun menengah.

Forum juga menyinggung besarnya potensi aset dan amal usaha Muhammadiyah. Sejumlah angka mengenai nilai aset, luas aset wakaf, jumlah perguruan tinggi, rumah sakit dan klinik Muhammadiyah turut disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Namun, angka-angka tersebut merupakan informasi yang disampaikan dalam forum dan perlu diverifikasi lebih lanjut apabila digunakan sebagai data faktual mengenai keseluruhan aset Muhammadiyah.

Terkait pengelolaan wakaf, forum juga membahas upaya sertifikasi tanah wakaf organisasi kemasyarakatan Islam. Disebutkan bahwa Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memiliki komitmen untuk membantu penyelesaian sertifikasi tanah wakaf.

Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa masih terdapat sebagian tanah wakaf Muhammadiyah yang belum terdokumentasi atau belum tercatat atas nama Muhammadiyah.

PCM Cipayung Siapkan Pengembangan Griya Dakwah

Ketua PCM Cipayung menyampaikan rencana pengembangan Griya Dakwah Masjid Joko Agung Purnomo di Cipayung, Jakarta Timur.

Salah satu rencana tersebut adalah pembelian lahan di depan masjid seluas sekitar 447 meter persegi dengan nilai keseluruhan sekitar Rp2,5 miliar.

Selain itu, PCM Cipayung bersama Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Cipayung disebut telah secara resmi menerima SK Nazhir Perwakilan, sebagai amanah untuk mengelola tanah milik PP Muhammadiyah seluas sekitar 2.500 meter persegi di Kelurahan Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

Pengelolaan aset dan wakaf tersebut diharapkan dapat memperkuat kegiatan dakwah, pendidikan serta pelayanan sosial Muhammadiyah di tingkat masyarakat.

“Muhammadiyah Milik Siapa?”

Salah satu pesan yang mengemuka dalam pengajian adalah refleksi mengenai kepemilikan dan amanah dalam organisasi Muhammadiyah.

Dalam forum tersebut disampaikan pertanyaan, “Muhammadiyah milik siapa?”

Jawaban yang disampaikan menekankan bahwa Muhammadiyah bukan milik pendiri, bukan milik pimpinan, dan bukan pula milik anggota secara pribadi.

Muhammadiyah dipandang sebagai amanah yang didedikasikan untuk Allah SWT. Karena itu, setiap warga Muhammadiyah diingatkan untuk menjaga keikhlasan dalam menjalankan amanah organisasi.

Dalam konteks tersebut, disampaikan pula bahwa seseorang semestinya tetap ikhlas dalam bermuhammadiyah, baik ketika memperoleh amanah jabatan maupun ketika tidak lagi memegang posisi struktural.

Pesan tersebut menjadi pengingat agar jabatan dalam organisasi tidak dipandang sebagai kepemilikan pribadi, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Tiga Bekal Menuju “Jannatun Naim”

Dalam materi pengajian, turut disampaikan tiga hal yang dikaitkan dengan upaya warga Muhammadiyah menuju jannatun naim, yakni ampunan Allah, rida Allah, dan keikhlasan.

Pesan tersebut menempatkan aktivitas bermuhammadiyah bukan sekadar sebagai kegiatan organisasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjalankan nilai-nilai keislaman.

Gagasan tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya keikhlasan dalam menerima amanah serta kesediaan untuk terus berkontribusi meskipun seseorang tidak lagi memegang jabatan tertentu di organisasi.

Refleksi Sejarah Muhammadiyah

Forum juga mengangkat refleksi sejarah mengenai posisi Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan dan dakwah Islam.

Salah satu kisah yang disinggung adalah mengenai gagasan agar Muhammadiyah menjadi partai politik pada masa ketika KH Agus Salim memimpin Sarekat Islam.

Dalam refleksi yang dikaitkan dengan KH Ahmad Dahlan, disampaikan pertanyaan mengenai sejauh mana seseorang telah memahami Islam dengan sebenar-benarnya serta kesediaannya menyerahkan jiwa dan harta untuk perjuangan Islam.

Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi mengenai orientasi awal gerakan Muhammadiyah yang menempatkan dakwah dan pengamalan nilai Islam sebagai bagian penting dari gerakan.

Santunan untuk Yatim dan Duafa

Selain pengajian, rangkaian kegiatan HBM ke-23 juga diisi dengan pemberian 40 bingkisan santunan kepada anak yatim dan duafa.

Kegiatan sosial tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas Muhammadiyah yang tidak hanya berfokus pada penguatan pemahaman keagamaan dan organisasi, tetapi juga kepedulian terhadap masyarakat.

Sebelumnya, Ketua PCM Cipayung Abdul Rahman Tinambunan, M.M., menyampaikan sambutan dan menegaskan kesiapan PCM Cipayung dalam memfasilitasi kegiatan keilmuan serta dakwah bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar.

Ketua PDM Jakarta Timur Prof. Dr. M. Nur Rianto Al Arif, M.Si., turut hadir bersama jajaran PDM Jakarta Timur.

Kehadiran pimpinan daerah tersebut memperkuat keterhubungan antara program PDM dengan aktivitas Muhammadiyah di tingkat cabang.

Melalui Hari Bermuhammadiyah ke-23, PDM Jakarta Timur berharap penguatan ideologi dapat berjalan seiring dengan kemampuan warga Muhammadiyah membaca perubahan zaman, memperkuat dakwah, mengelola amanah wakaf secara profesional, serta menjaga nilai keikhlasan dalam berorganisasi.

Dengan demikian, tema “Meneguhkan Ideologi Muhammadiyah di Tengah Arus Perubahan Zaman” tidak hanya menjadi tema pengajian, tetapi juga menjadi refleksi bagi warga Muhammadiyah untuk tetap berpegang pada nilai dasar gerakan sembari merespons tantangan sosial yang terus berkembang.(Red)*