"Karena sasarannya adalah menghasilkan daun pembungkus luar yang utuh dan mulus, aspek penanganan selama masa tanam menjadi sangat sensitif. Risiko tinggi terhadap kerusakan fisik membuat implementasi mekanisasi tidak bisa diterapkan secara menyeluruh, melainkan dioptimalkan pada tahap pra-tanam dan pengolahan lahan awal seperti pembumbunan, pembuatan guludan, serta proteksi dini tanaman," ujar Syaifudin.
Dalam pengendalian hama, PTPN I bekerja sama dengan Pusat Penelitian (Puslit) Tembakau melalui penerapan inovasi ramah lingkungan berupa yellow trap atau jebakan botol plastik kuning berperekat. Berdasarkan hasil penelitian, metode tersebut efektif memantau populasi hama seperti kutu kebul (Bemisia tabaci) dan Thrips sp., sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat dan aman bagi tanaman.
Selain itu, penggunaan jaring peneduh (waring) menjadi bagian penting dalam rekayasa iklim mikro yang telah diterapkan sejak 1988. Sistem ini mengurangi paparan sinar matahari langsung sekitar 30 persen sehingga tanaman menerima intensitas cahaya sekitar 70 persen.
Menurut Syaifudin, pengaturan lingkungan tumbuh tersebut terbukti menghasilkan daun tembakau yang lebih tipis, elastis, dan memenuhi spesifikasi pasar cerutu premium dunia.
Komentar