Menurut dia, dibutuhkan special tools untuk mengukur kondisi baterai serta mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR) yang dapat mendorong pengelolaan baterai secara lebih menyeluruh.
“Ini menjadi pekerjaan rumah penting dalam membangun ekosistem baterai nasional, termasuk kebutuhan terhadap special tools untuk mengukur kondisi baterai serta pengembangan mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR),” ujarnya.
Tantangan tersebut semakin penting seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik dan pengembangan energi terbarukan.
Limbah baterai kendaraan listrik diperkirakan dapat mencapai 57.000 ton pada 2030 dan meningkat menjadi 322.000 ton pada 2035.
Besarnya potensi tersebut membuat baterai bekas perlu dilihat bukan semata sebagai limbah. Dengan teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat, baterai yang telah selesai digunakan dapat memiliki nilai baru melalui repurposing maupun recycling.
Energi Terbarukan Dorong Sistem Makin Cerdas
Perubahan sistem energi juga terjadi seiring semakin berkembangnya energi terbarukan.
Komentar