Sementara itu, dalam simulasi head to head atau dua nama, Dedi Mulyadi memperoleh 59 persen dukungan responden, sedangkan Prabowo Subianto memperoleh 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.
SMRC juga mencatat adanya perubahan tren dalam empat bulan terakhir. Elektabilitas Prabowo pada simulasi dua nama turun dari 50,5 persen pada survei Februari–Maret 2026 menjadi 28,3 persen pada survei Juli 2026. Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 42,6 persen menjadi 59 persen pada periode yang sama.
Dalam pemaparannya, Deni Irvani menjelaskan bahwa populasi survei mencakup seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Sebanyak 749 responden dipilih secara acak. Dari jumlah tersebut, 83,8 persen diwawancarai melalui sambungan telepon, sedangkan 16,2 persen diwawancarai secara tatap muka. Proporsi tersebut disesuaikan dengan komposisi masyarakat pengguna telepon seluler dan nonpengguna.
SMRC menyebut survei ini memiliki margin of error ±3,7 persen. Untuk menyimpulkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik, selisih hasil survei harus mencapai sedikitnya dua kali margin of error, atau sekitar 7,4 persen. Survei dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026.
Hasil survei tersebut menggambarkan dinamika preferensi publik pada saat pengambilan data. Temuan ini merupakan potret opini responden pada periode survei dan tidak dapat diartikan sebagai prediksi pasti terhadap hasil pemilihan umum yang akan datang.(Red)*
Komentar