“UMKM seperti warung dan toko sangat penting sebagai indikator pergerakan ekonomi. Saat ini kondisi mulai membaik setelah sebelumnya terdampak penurunan pertumbuhan dan peningkatan inflasi,” ujarnya.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah memberikan dukungan konkret berupa bantuan sarana produksi seperti peralatan memasak, bahan baku usaha, hingga paket kebutuhan pokok. Selain itu, bantuan juga mencakup pakaian baru bagi pelaku usaha serta bahan baku kerajinan seperti benang songket guna mendukung keberlanjutan usaha lokal.
Pemerintah juga menyediakan fasilitas penunjang seperti tenda usaha sementara dan sumur bor untuk memastikan ketersediaan air bersih, sehingga pelaku UMKM dapat kembali menjalankan aktivitas produksi secara optimal.
Di sisi pembiayaan, pemerintah memperkuat dukungan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pascabencana yang mencakup relaksasi pembayaran, restrukturisasi kredit, hingga penambahan plafon pembiayaan. Akses terhadap KUR baru juga dipermudah untuk mendorong percepatan pemulihan usaha.
Hingga 18 April 2026, tercatat sebanyak 193.703 debitur KUR terdampak di tiga provinsi dengan total outstanding mencapai Rp11,22 triliun. Program ini menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan usaha masyarakat di tengah proses pemulihan ekonomi.
Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis UMKM di wilayah terdampak bencana tidak hanya pulih, tetapi juga mampu tumbuh lebih kuat sebagai fondasi ekonomi daerah di masa depan.(red)*
Komentar